Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan jika sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan jika pasien yang telah sembuh dari corona kebal terhadap virus tersebut.
- Zodiak Yanuarita
- Minggu, 19 April 2020 - 11:20 WIB
WowKeren - Dunia mencatat lebih dari 2 juta penduduk bumi telah terinfeksi virus corona (COVID-19). Meski angka kematian cukup tinggi, namun jumlah pasien yang dinyatakan pulih lebih banyak bahkan mencapai 3 kali lipat dari jumlah yang meninggal.
Dilansir dari Worldometers, hingga berita ini ditulis, ada sebanyak 2.331.995 kasus corona di dunia, dengan jumlah kematian sebanyak 160.767 dan sembuh 597.215.
Meski demikian, bagi pasien yang berhasil sembuh tak ada jaminan jika tidak akan kembali terserang virus yang belum ada vaksinnya itu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan jika sampai saat ini belum ada bukti yang menunjukkan jika penyintas corona kebal terhadap virus tersebut.
Salah satu pakar kesehatan WHO, Dr Maria van Kerkhove, menyebut jika ada banyak negara yang melakukan tes antibodi dengan tujuan untuk menentukan pasien sembuh dapat dikatakan kebal dari corona. "Ada banyak negara yang menganggap tes serologi sebagai cara untuk melihat ukuran imunitas," kata dia seperti dilansir Telegraph, Minggu (19/4).
Sehingga dengan kata lain, penyintas yang sudah dinyatakan sembuh dari virus corona masih ada potensi untuk bisa terjangkit lagi virus yang sama. "Saat ini, kita belum memiliki bukti jika penggunaan tes serologi dapat menunjukkan bahwa seseorang memiliki kekebalan atau terlindungi dari infeksi yang sama," lanjut dia.
Sebab menurutnya, tes antibodi hanya bisa mengukur seroprevalensi atau level antibodi seseorang. Namun tak serta merta bisa disimpulkan jika individu yang memiliki antibodi kebal.
"Tes antibodi ini akan dapat mengukur tingkat seroprevalensi-tingkat antibodi itu," lanjut Maria. "Tetapi itu tidak berarti bahwa seseorang dengan antibodi berarti mereka kebal."
Meski demikian, dengan banyaknya negara yang tengah mengembangkan berbagai tes untuk COVID-29 adalah hal yang baik. Namun ia meminta agar tes itu divalidasi terlebih dahulu agar tepat. "Kita perlu memastikan bahwa berbagai macam tes itu telah divalidasi," ujarnya.
(wk/zodi)