Pandemi COVID-19 Bikin Petani Kopi Untung, Kok Bisa?
Getty Images/Jefta Images
Dunia

Adanya pandemi corona rupanya dapat memberi keuntungan pada petani kopi. Pasalnya, hasil pendapatan dari kopi di bulan Maret melonjak hingga 10 persen dibandingkan bulan Februarinya.

WowKeren - Merebaknya wabah corona di sejumlah negara di dunia membuat masyarakat merasa ketakutan dan khawatir. Hal ini juga menimbulkan efek panic buying dimana orang-orang berlomba-lomba untuk menyetok persediaan makanan selama melakukan masa karantina atau lockdown demi menekan penyebaran virus COVID-19.

Di tengah pandemi, sejumlah orang masih memikirkan konsumsi kafeinnya. Hal ini menjadi kabar baik untuk para petani di daerah penghasil utama kopi yang selama ini berjuang keras karena harga kopi yang merosot tiap tahunnya.

Sejak 2016 lalu, harga kopi terus menurun hingga 30% di bawah rata-rata selama dekade terakhir. Menurut Organisasi Kopi Internasional, sebuah badan yang mewakili 49 negara anggota yang mengekspor dan mengimpor kopi. Harga kopi Arabika pada bulan Maret berada di atas USD 1,12 per ponnya, jauh dari puncak lebih dari USD 3,00 per pon sekitar 2011.

"Lebih dari 25 juta petani di seluruh dunia berjuang untuk menutupi biaya operasi mereka karena harga input terus meningkat," ujarnya menurut laporan minggu lalu. "Akibatnya, pendapatan pertanian menurun dan mata pencaharian semakin berisiko."

Namun, harga kopi Arabika tiba-tiba naik pada bulan lalu karena kekhawatiran akan ketersediannya. Kopi Arabika dari Brasil mengalami lonjakan pada bulan Maret lalu sebanyak 10% jika dibandingkan bulan Februari lalu.

Sedangkan di New York, perdagangan kopi melonjak 8,8% pada bulan Maret, menjadi rata-rata sekitar USD 1,16 per pon. Mereka naik lebih lanjut untuk menetap di USD 1,2120 pada Kamis malam selama jam Asia.


Adanya pandemi corona membuat pengiriman pasokan menjadi terganggu karena sebagian negara di dunia menerapkan opsi lockdown. Sebagai contoh, pengiriman dari Kolombia harus terganggu sementara karena adanya lockdown.

Dijelaskan bahwa panen kopi di Kolombia biasanya dilakukan pada April. Namun, terdapat kemungkinan jika proses panen terdampak karena adanya beberapa faktor seperti tenaga kerja imigran yang menjadi sedikit dan lockdown di negara Kolombia sendiri baru dibuka pada 27 April mendatang.

Pada situasi global secara keseluruhan, ICO mengatakan: "Saat ini permintaan diperkirakan melebihi produksi. Gangguan pada rantai pasokan baik dalam pengiriman dan panen dapat menyebabkan kekurangan sementara dalam pasokan, memberikan tekanan ke atas pada harga dalam jangka pendek.”

Jika pandemi ini terus berlanjut, dapat memperburuk situasi para petani. Salah satunya seperti, invasi belalang yang terjadi di Afrika Timur beberapa waktu lalu.

Selain itu, dengan bertambahnya orang yang tetap tinggal di rumah dapat mempengaruhi permintaan pengiriman kopi menjadi rendah. Pasalnya, kedai-kedai kopi serta kafe harus ditutup selama wabah corona.

"Mengikuti lonjakan awal dalam permintaan, akan ada lebih sedikit permintaan secara proporsional dalam beberapa minggu dan bulan mendatang karena konsumen menarik stok disimpan di rumah," kata ICO.

(wk/nidy)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait