Wabah virus Corona sudah menjadi pandemi global dan dimusuhi nyaris semua negara di dunia. Setiap negara pun memiliki taktik uniknya masing-masing, seperti berikut.
- Elvariza Opita
- Rabu, 22 April 2020 - 16:44 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu penjaga keamanan berwujud pocong di Jawa Tengah menjadi viral, bahkan sampai "debut" di media internasional. Satpam pocong ini sendiri muncul sebagai upaya mengatasi wabah COVID-19 di Indonesia.
Nyatanya bukan cuma Indonesia yang menerapkan langkah-langkah unik serupa. Beberapa negara juga memiliki taktik uniknya masing-masing yang akan dibahas berikut ini.
Namun harus diingat, tak semua taktik ini bisa serta-merta diterapkan di Indonesia. Selain itu, yang terpenting, masyarakatnya sendiri harus bisa menuruti anjuran pemerintah untuk lebih banyak berdiam di rumah demi memutus rantai penyebaran COVID-19.
(wk/elva)1. Boleh Sekolah Lagi, Tapi Ada Syaratnya
Beberapa negara menutup sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah menyusul makin tingginya angka pasien positif COVID-19. Namun beberapa negara berencana untuk membuka kembali kegiatan persekolahan mereka, salah satunya Denmark.
Negara di Eropa ini berencana untuk membuka kembali sekolah mereka, dimulai dari murid berusia di bawah 12 tahun. Demi menghindari penularan virus di sekolah, pihak pemerintah dengan tegas akan menerapkan social distancing seperti dengan memberi jarak antar meja sampai membagi lapangan sekolah dalam beberapa area kecil.
Selain itu, murid yang masuk pun wajib mencuci tangannnya ketika masuk sekolah dan mengulanginya setiap 2 jam sekali. Permukaan-permukaan benda yang kerap disentuh seperti wastafel dan kenop pintu didisinfeksi sebanyak 2 kali dalam sehari.
Hal berbeda justru diterapkan di Republik Ceko. Negara itu justru akan memberi izin bagi murid-murid di tingkat akhir untuk kembali bersekolah terlebih dahulu. Baru setelahnya perlahan-lahan kegiatan sekolah untuk tingkat dasar atau juniornya dimulai.
2. Kartu Pengenal Khusus Untuk COVID-19
Salah satu negara di Amerika Selatan, Chili, berencana untuk merilis kartu imunitas digital. Kartu ini akan diberikan kepada para penyintas COVID-19, baik yang sudah pernah dinyatakan positif maupun yang pernah mengidap gejala dan telah dinyatakan sembuh.
Inovasi Chili ini belakangan dilirik oleh Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock. Ia berencana memberikan tanda pengenal khusus bagi setiap individu yang dinyatakan sehat agar bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Langkah serupa juga bakal dilakukan oleh Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat, Dr. Anthony Fauci.
Sebelumnya Tiongkok sendiri sudah memberlakukan kebijakan serupa demi mengendalikan wabah di negaranya. Tiongkok menggunakan Quick Response Codes (QR Code) di gawai masing-masing warga dan memberikan status sesuai kondisi kesehatan mereka di sana.
Ada 3 indikator warna, yakni merah, oranye, dan hijau. Orang dengan status hijau atau normal lah yang berhak berkeliaran kemana-mana, sedangkan yang berstatus merah dan oranye wajib mengisolasi diri sesuai protokol kesehatan yang berlaku.
3. Lockdown Demi Tangkal Corona, Tapi Cuma di Waktu Tertentu
Kebanyakan negara menerapkan lockdown sesuai lokasinya, baik lockdown satu negara maupun parsial. Namun Turki akan menerapkan cara yang berbeda. Negara itu akan menerapkan lockdown hanya selama 48 jam selama akhir pekan.
Hal senada juga dilakukan di Navajo Nations di Arizona. Sedangkan Libya memiliki cara yang berbeda lagi, yakni hanya memberi izin bagi penduduk untuk berkeliaran dalam rentang pukul 7 pagi hingga 12 siang. Toko-toko pun hanya diperkenankan buka selama jam tersebut.
4. PSBB Hanya Untuk Golongan Usia Tertentu
Bila tadi lockdown hanya dilakukan pada masa-masa tertentu, kali ini ada pula pemerintah yang "diskriminatif" terhadap golongan masyarakat tertentu. Seperti di Turki yang menerapkan "pembatasan sosial berskala besar" sesuai dengan usia warga.
Pada hari biasa, hanya orang dengan usia di bawah 20 tahun serta mereka yang lansia atau diatas 65 tahun yang berhak mengakses aplikasi berbelanja dari rumah. Untuk masyarakat di luar golongan itu diperkenankan berada di luar rumah namun tetap menerapkan protokol kesehatan yang ada.
Di Swedia pun menerapkan hal serupa. Bagi mereka yang berusia diatas 70 tahun wajib untuk tetap berada di rumah. Sedangkan baru-baru ini peneliti Inggris mulai mengkaji opsi agar kaum muda berusia 20-30 tahun yang tidak tinggal dengan orangtuanya diperbolehkan menjalani "kehidupan normal".
5. Pemerintah 'Adil' Lockdown Warganya Sesuai Jenis Kelamin
Presiden Peru, Martin Vizcarra, mengumumkan negaranya akan menerapkan PSBB sesuai dengan jenis kelamin masyarakatnya. Secara garis besar, masyarakat berjenis kelamin laki-laki hanya boleh keluar rumah pada hari ganjil, sedangkan yang perempuan keluar rumah pada hari genap.
Dengan demikian pada Senin, Rabu, dan Jumat hanya masyarakat laki-laki yang boleh keluar rumah. Sebaliknya, pada Selasa, Kamis, dan Sabtu hanya perempuan yang boleh keluar rumah.
Tak dibeberkan apa motivasi di balik kebijakan tersebut, namun negara Panama yang juga menerapkan hal serupa memiliki alasan seperti berikut. Pemerintah Panama menilai intensitas masyarakat untuk keluar rumah akan menurun karena pasangannya tak bisa ikut keluar.
Beberapa kota di Kolombia, seperti Ibu Kota Bogotta, juga menerapkan hal serupa. Kendati demikian tak dijelaskan bagaimana kebijakan pada hari Minggu-nya.
6. 'Special Agent' Drone Siap Awasi Masyarakat
Italia menjadi salah satu negara yang menggunakan drone sebagai "mata-mata" dalam mengawasi masyarakatnya yang sedang di-lockdown. Otoritas keamanan setempat menggunakan alat itu untuk mengawasi masyarakat dan langsung menindak mereka yang nekat berjalan-jalan kendati sudah dilarang.
Hal senada juga dilakukan oleh Inggris. Bahkan kesatuan kepolisian setempat sigap memamerkan footage hasil rekaman drone, menunjukkan warga yang masih bandel berjalan-jalan walau pemerintah sudah menerapkan lockdown.
Australia menggandeng perusahaan operator drone swasta untuk mengawasi negara secara penuh, meliputi suhu tubuh hingga detak jantung para masyarakat. Drone di Australia juga akan mengawasi masyarakat yang batuk atau bersin di kerumunan.
Namun inovasi drone tercanggih tampaknya ada di Tiongkok dan Kuwait. Sebab kedua negara itu menggunakan "talking drones" alias drone yang bisa berbicara, spesial untuk mengingatkan warga bandel dan menyuruh mereka untuk segera pulang.