Direktur Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Robert Redfield, menyebut bahwa gelombang kedua COVID-19 bisa memberikan dampak lebih buruk dan meminta warga AS untuk melakukan antisipasi.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 22 April 2020 - 15:09 WIB
WowKeren - Gelombang kedua virus corona (COVID-19) di Amerika Serikat (AS) disebut bakal lebih buruk dibandingkan saat ini. Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di AS, Robert Redfield.
Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, Redfield menyebut bahwa gelombang kedua COVID-19 bisa memberikan dampak lebih buruk karena bertepatan dengan dimulainya musim flu. Dalam keterangannya, ia menyebutkan kemungkinan COVID-19 menyerang saat musim dingin, dan itu bisa lebih buruk dari yang mereka perkirakan. Robert Redfield bahkan menyerukan publik untuk bersiap dalam beberapa bulan ke depan.
"Di saat bersamaan, kami akan memiliki wabah flu dan pandemi virus corona," kata Redfield seperti dilansir dari The Jakarta Post pada Rabu (22/4). "Itu akan menjadi momen yang sangat, sangat sulit kami tangani," lanjutnya.
Menurut Redfield, virus itu datang seperti musim flu biasanya, yang kemudian dengan sekejap melemahkan sistem kesehatan mereka. Dia khawatir jika gelombang kedua COVID-19 bisa memasuki puncak di saat flu menyerang. Ia menambahkan, jika publik secepat mungkin mendapatkan vaksin flu, maka akan ada peluang publik yang terkena virus corona bisa dirawat.
Saat ini, AS adalah negara dengan kasus infeksi dan kematian karena virus corona tertinggi di dunia. Otoritas kesehatan setempat mengumumkan hampir 820 ribu orang terjangkit COVID-19, dengan lebih dari 45 ribu lainnya meninggal.
Amerika Serikat juga menjadi negara dengan jumlah tes virus corona (COVID-19) terbanyak di dunia. Hingga saat ini AS mengatakan sudah melakukan lebih dari empat juta pengetesan virus corona.
Kendati demikian, sejumlah gubernur negara bagian masih mengeluhkan minimnya pelaksanaan tes yang bisa menjadi dasar bagi mereka untuk kembali menjalankan aktivitas secara normal, tanpa memicu penambahan jumlah kasus positif corona. Beberapa pakar kesehatan menyebut minimnya jumlah tes mengindikasikan pemerintah meremehkan penyebaran virus corona.
Sebagai informasi tambahan, hingga kini beberapa negara bagian di AS terus mengalami lonjakan jumlah kasus positif corona per hari. Sebut saja New York yang menjadi episentrum alias pusat penyebaran COVID-19 di AS, kemudian New Jersey, Michigan, California, Louisiana, Massachusetts, Pennsylvania, Florida, Illinois, Texas, Georgia, Connecticut, Maryland, Ohio, Indiana, Colorado, hingga Washington DC.
(wk/luth)