Ahli gizi rupanya turut berperan penting dalam satuan relawan penanganan COVID-19 di Indonesia meski tidak berada di 'barisan paling depan'. Seperti apa tugas para ahli gizi ini?
- Nidya Putri
- Rabu, 29 April 2020 - 15:15 WIB
WowKeren - Banyaknya pasien positif corona di Indonesia, membuat sejumlah orang tergerak menjadi relawan penanganan COVID-19. Salah satunya seperti ahli gizi Lidya Sembiring yang menjadi relawan penanganan COVID-19 di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet.
Meski tidak menjadi relawan garis depan yang langsung merawat pasien dalam pengawasan (PDP) atau pasien positif, ia masih bisa menjadi penyokong untuk memastikan tenaga medis mendapatkan imun maksimal dari makanan bergizi. Dengan imun maksimal, tenaga medis bisa dengan optimal melakukan perawatan orang yang berstatus PDP dan positif terinfeksi penyakit yang disebabkan virus corona jenis baru itu.
Penjagaan imun, yang penting untuk menghadapi COVID-19, tentu penting untuk tenaga medis yang setiap harinya memiliki risiko penularan. "Di situlah kita ahli gizi terus concern supaya khususnya tenaga medis dan pasien mendapatkan sesuai kebutuhannya," terangnya.
Relawan ahli gizi bertugas untuk memastikan tenaga medis dan pasien mendapatkan asupan aneka ragam makanan yang memiliki kandungan protein tinggi. Karena salah satu yang mendukung sistem imun adalah konsumsi sumber protein seperti daging ayam, sapi dan ikan.
Selain memodifikasi asupan makanan bergizi, para relawan ahli gizi juga melakukan survei pelayanan untuk memastikan memberikan pelayanan terbaik baik untuk tenaga medis maupun pasien.
Lidya juga mengaku tergerak ketika melihat banyak teman medis berjuang di garis depan dan merasakan duka ketika dosen yang dikenalnya juga berpulang. "Dorongan awal saya melihat teman-teman perawat dan tenaga medis yang berjuang di garis depan lalu ada beberapa dosen saya yang dipanggil oleh Tuhan," ujarnya dalam konferensi pers yang diadakan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB di Jakarta, Rabu (29/4). "Di situ hati saya tergerak."
Sementara itu, Gugus Tugas untuk sementara waktu akan menutup pendaftaran relawan non-medis. Hal ini disebabkan karena membludaknya jumlah pendaftar relawan non-medis dibandingkan dengan perawat medis.
"Jadi memang karena kebutuhan lebih banyak di medis, untuk non-medis kita akan lakukan klasifikasi ulang," kata Andre. "Kita lagi perbaiki mekanisme pendaftaran. Jadi sementara mulai hari ini (29/4) sampai Minggu (3/5) tutup dulu."
(wk/nidy)