Percobaan obat ebola remdesivir sebagai vaksin corona sempat dinyatakan gagal oleh WHO. Namun, Gilead Sciences menunjukkan perkembangan potensi remdesivir sebagai obat COVID-19.
- Nidya Putri
- Kamis, 30 April 2020 - 09:49 WIB
WowKeren - Virus corona telah menginfeksi lebih dari 3 juta orang di dunia. Seluruh dunia pun saat ini tengah berfokus untuk menemukan vaksin yang dapat menyembuhkan para pasien dari virus mematikan tersebut.
Para ilmuwan hingga peneliti tengah berpacu dengan waktu untuk menemukan formula yang pas. Adapula yang mencari formula vaksin dari obat wabah sebelumnya.
Seperti Gilead Sciences yang melakukan uji coba obat COVID-19 dengan menggunakan remdesivir. Remdesivir sendiri awalnya adalah obat Ebola. Ia adalah antivirus yang bekerja dengan menyerang enzim yang dibutuhkan virus untuk bereplika.
Baru-baru ini mereka mengatakan adanya keberhasilan dalam uji coba yang dilakukan. Setidaknya ada 50% pasien yang diobati remdesivir dengan dosis lima hari membaik dan lebih dari setengahnya dikeluarkan dari rumah sakit dalam waktu dua minggu.
Uji coba tersebut dilakukan Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular (NIAID) AS. "Data menunjukkan remdesivir memiliki dampak positif yang jelas dan signifikan dalam mengurangi waktu pemulihan," ujar Penasehat Kesehatan Gedung Putih Anthony Fauci, dikutip dari BBC, Kamis (30/4).
Administrasi Makanan dan Obat-obatan, sementara itu, telah dalam tahap diskusi tentang kelanjutan dengan Gilead untuk membuat remdesivir tersedia untuk pasien COVID-19. “Secepat mungkin, sebagaimana diperlukan,” kata penasihat senior FDA Michael Felberbaum.
Uji coba klinis Gilead yang lebih kecil melibatkan 397 pasien dengan kasus COVID-19 parah. Penelitian yang parah adalah "tangan tunggal," yang berarti itu tidak mengevaluasi obat antivirus terhadap kelompok kontrol pasien yang tidak menerima obat.
Studi ini melacak dua kelompok pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19. Satu kelompok menerima pengobatan remdesivir selama lima hari, sementara kelompok lain minum obat selama 10 hari.
Para peneliti mengatakan lebih dari separuh pasien di kedua kelompok pengobatan dikeluarkan dari rumah sakit dalam 14 hari. Mereka mengatakan 64,5% dari pasien yang menerima pengobatan remdesivir lebih singkat keluar dari rumah sakit, dibandingkan dengan 53,8% dari kelompok yang dirawat selama 10 hari.
“Data ini menggembirakan karena menunjukkan bahwa pasien yang menerima perawatan remdesivir selama lima hari mengalami peningkatan klinis yang serupa dengan pasien yang menerima pengobatan 10 hari,” kata Aruna Subramanian, pemimpin peneliti dalam penelitian ini.
Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan uji coba remdesivir tidak berhasil untuk menyebuhkan pasien COVID-19. Uji coba tersebut sebelumnya dilakukan oleh peneliti dari Tiongkok.
(wk/nidy)