Terapi Plasma Darah Dilirik Jadi Obat Infeksi Corona, Seberapa Efektif?
Health

Belum ditemukannya obat dan vaksin untuk mengatasi COVID-19 membuat paramedis melirik opsi terapi plasma darah untuk menyembuhkan para pasien. Begini penjelasan lengkap terapi tersebut.

WowKeren - Hingga hari ini (30/4) belum ada obat dan vaksin yang benar-benar mujarab dalam menangkal virus Corona. Para pasien hanya bergantung pada antibodi yang diproduksi tubuh serta obat-obatan untuk meringankan gejala klinis COVID-19.

Alhasil terapi plasma darah dari pasien sembuhnya pun menjadi alternatif yang dilirik tenaga medis. Lantas apakah terapi ini benar-benar efektif dalam mengobati COVID-19?

Sebelum menyelami efektivitasnya, perlu dipahami bagaimana prinsip pengobatan dengan plasma darah ini. Lewat terapi ini, plasma darah penyintas diinjeksikan ke tubuh pasien dalam perawatan.

Kandungan antibodi di dalam plasma darah penyintas COVID-19 itu diharapkan dapat "memancing" tubuh pasien penerima donor memproduksi antibodi yang sama. Alhasil virus Corona yang menyerang di dalam tubuh bisa ditumbangkan oleh antibodi tersebut.

Namun tak semua penyintas COVID-19 bisa mendonorkan plasma darahnya. Sebab hanya mantan pasien COVID-19 yang telah dirawat selama 21-28 hari yang bisa mendonorkan plasma darahnya, seperti dikutip dari ABC News.


Antibodi ini dikumpulkan dari dalam tubuh penyintas. Faktor-faktor penyembuh dari dalamnya, seperti kemampuan agar kebal terhadap mikroba penyebab penyakit, ditransfer kepada pasien yang memerlukan.

"Kami mentransfer faktor-faktor pelindung itu lewat darah kepada orang-orang yang sakit dan belu mampu meningkatkan kekebalan tubuhnya," jelas Elliott Bennett-Guerrero, seorang peneliti di Story Brook Medicine, Amerika Serikat.

Terapi plasma darah pun banyak dilirik karena memiliki sejumlah keuntungan. Seperti misalnya terkait ketersediaan donor yang bsia didapatkan dengan mudah.

Namun ada sejumlah kekurangan yang harus diperhatikan, seperti misalnya soal kompatibilitas penerimaan plasma darah tersebut di tubuh penerima donor.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyebut efektivitas dari terapi plasma darah belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun langkah ini merupakan salah satu solusi alternatif dalam menangani COVID-19.

Hanya saja terapi ini patut mempertimbangkan inkompatibilitas ABO alias reaksi "alergi" yang terkait dengan tidak cocoknya golongan darah pendonor dan penerima.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait