Singapura sempat menuai pujian selangit karena metode deteksi virusnya yang agresif. Namun belakangan Singapura 'kecolongan' dan menjadi 'peringkat 1' dari segi kasus terbanyak se-ASEAN.
- Elvariza Opita
- Senin, 04 Mei 2020 - 21:00 WIB
WowKeren - Singapura sempat menjadi salah satu negara yang menuai banyak pujian ketika awal berkembangnya wabah virus Corona. Sebab negara itu menerapkan kebijakan ketat yang disebut-sebut mujarab dalam menekan angka penyebaran penyakit.
Namun belakangan pujian ini harus ditarik lantaran secara tiba-tiba Singapura menjelma menjadi negara dengan jumlah pasien COVID-19 terbanyak di Asia Tenggara, mengalahkan Indonesia dan Filipina.
Otoritas medis Singapura langsung mengambil langkah tegas dengan menerapkan lockdown nasional. Namun nyatanya kebijakan ini tak mengurangi jumlah pasien positif COVID-19 yang dikonfirmasi tiap harinya.
Belakangan terungkap Singapura "panen" pasien Corona ini dari asrama padat penduduk yang konon dihuni lebih dari 300 ribu dari 1 juta tenaga kerja asing (TKA). Kendati angka penyebaran wabahnya begitu hebat, berbagai pihak menilai jumlah kasus akan terus meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
"Kami sudah melakukan tes di lingkup asrama yang memiliki banyak kasus positif," ujar Menteri Kesehatan Singapura, Gan Kim Yong, dalam konferensi pers virtualnya pekan lalu, dilansir dari NPR, Senin (4/5).
Lebih lanjut, Gan menyebut pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap lebih dari 3 ribu TKA dalam sehari, namun masih berusaha untuk meningkatkan jumlah spesimennya. Pasalnya virus menyebar begitu cepat di asrama tersebut sebelum Kemenkes Singapura sempat memeriksa semua ODP.
"Untuk wilayah asrama dengan potensi penularan tinggi, kami fokus untuk mengisolasi semua yang menunjukkan gejala klinis walaupun tak positif COVID-19," tutur Gan. "Ini memungkinkan kami untuk memberikan pelayanan medis bagi mereka."
Gan menyebut kebanyakan dari mereka yang terkonfirmasi positif COVID-19 justru tak menunjukkan gejala klinis. "Kebanyakan mereka tak memerlukan perawatan intensif," jelas Gan. "Tapi sekitar 30 persen harus diperiksa lebih jauh karena memiliki penyakit bawaan atau dipengaruhi faktor usia."
Asrama itu sendiri kebanyakan dihuni oleh warga negara India dan Bangladesh yang memang mengadu nasib sebagai buruh pabrik manufaktur di sekitar daerah tersebut. Guru Besar Universitas Massey di Selandia Baru, Mohan Dutta, mengaku tak heran bila para pekerja migran itu dengan mudah terjangkit dan saling menularkan penyakit.
Pasalnya dalam satu ruangan disediakan 12-20 tempat tidur sehingga sulit bagi mereka untuk menjaga jarak. Bahkan konon 100 pekerja di sana harus berbagi 5 toilet dan 5 bilik kamar mandi, menyebabkan sanitasi di sana sangat tidak terjaga.
(wk/elva)