Kim Jong Un yang kembali muncul ke hadapan publik usai 'menghilang' selama sekitar 3 minggu rupanya melukai kredibilitas pembelot kelas atas dari Korut yang sempat berspekulasi bahwa sang pemimpin menderita sakit keras dan bahkan sudah meninggal.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 05 Mei 2020 - 10:19 WIB
WowKeren - Pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, diketahui baru saja kembali muncul ke hadapan publik dalam acara peresmian pabrik pupuk di Suncheon, dekat ibu kota Pyongyang, pada Jumat (1/5) pekan lalu usai sempat "menghilang" selama sekitar 3 minggu. Kemunculan Kim Jong Un di hadapan publik tersebut rupanya melukai kredibilitas pembelot kelas atas dari Korut yang sempat berspekulasi bahwa sang pemimpin menderita sakit keras atau bahkan sudah meninggal.
Mantan diplomat Korut yang kini menjadi anggota parlemen di Korea Selatan, Thae Yong Ho, meminta maaf atas klaim yang telah ia buat terkait kondisi kesehatan Kim Jong Un. Sebelumnya, Thae Yong Ho memang sempat mengklaim bahwa Kim Jong Un menderita penyakit hingga sudah tidak bisa berdiri atau berjalan.
"Saya sadar bahwa salah satu alasan banyak orang memilih saya sebagai anggota parlemen adalah harapan analisis dan proyeksi yang akurat tentang masalah Korea Utara," ujar Thae Yong Ho dilansir Reuters pada Selasa (5/5). "Saya merasakan kesalahan dan tanggungjawab yang berat. Apa pun alasannya, saya meminta maaf kepada semua orang."
Selain Thae Yong Ho, ada seorang pembelot Korut lainnya yang juga terpilih di parlemen, yakni Ji Seong Ho. Sebelumnya, Ji Seong Ho sempat mengatakan bahwa dirinya yakin 99 persen bahwa Kim Jong Un telah meninggal dunia usai menjalani operasi kardiovaskular.
Ji Seong Ho juga sempat menyatakan bahwa dirinya yakin pengumuman kematian Kim Jong Un akan segera dirilis. Menurut Ji Seong Ho, ia mendapatkan informasi tentang kematian Kim Jong Un tersebut dari seorang sumber yang tidak bisa ia ungkapkan. Kekinian, Ji Seong Ho tidak mau memberikan respons terhadap kemunculan Kim Jong Un di hadapan publik, namun ia juga menyatakan permintaan maaf.
"Saya telah merenungkan diri selama beberapa hari terakhir, dan merasakan beratnya posisi saya berada," jelas Ji Seong Ho. "Sebagai tokoh publik, aku akan bersikap hati-hati untuk maju."
Partai Demokrat di Korsel lantas mengkritik kedua pembelot Korut tersebut atas klaim mereka. Menurut Partai Demokrat, klaim itu bukan hanya memberi informasi yang salah kepada publik, namun juga dapat menimbulkan akibat yang lebih serius. Salah satu anggota partai bahkan mendesak mereka untuk dikeluarkan dari Komite Intelijen dan Pertahanan.
Blunder terkait informasi kondisi kesehatan Kim Jong Un ini menunjukkan betapa sulitnya mendapatkan informasi yang terpercaya terkait Korut. Thae Yong Ho sendiri sempat mengungkapkan bahwa pada 2011 silam, Menteri Luar Negeri Korut bahkan tidak tahu jika mantan pimpinan tertinggi, Kim Jong Il, meninggal hingga mereka dipanggil untuk menonton pengumuman media milik negara.
(wk/Bert)