Sejumlah Negara 'Pede' Longgarkan Lockdown, Tak Takut Gelombang Kedua Corona?
Dunia

Beberapa negara di dunia ‘pede’ melonggarkan lockdown usai mengklaim kasus COVID-19 mulai mereda, tidak takut dengan ancaman potensi gelombang kedua?

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini masih menjadi momok yang begitu menakutkan di dunia. Berdasarkan data dari badan statistik Worldometers hingga Rabu (6/5), telah ada lebih dari 3,7 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia.

Meski demikian, sejumlah negara mulai melonggarkan aturan lockdown setelah mengklaim kasus virus corona mulai mengalami penurunan. Namun, keputusan itu justru memicu kekhawatiran soal potensi terjadinya gelombang kedua wabah COVID-19.

Skenario terburuk itu bisa terjadi jika melihat pandemi yang pernah dicatatkan oleh sejarah di dunia. Seperti yang terjadi seabad lalu pada 1918, pandemi Flu Spanyol melanda dan menewaskan 50 juta penduduk Bumi. Saat itu, wabah tidak hanya menyerang sekali namun dalam tiga gelombang.

Selain pandemi Flu Spanyol, hal sama juga terjadi pada pandemi-pandemi flu berikutnya. Salah satunya adalah pandemi influenza A H1N1 yang terjadi pada 2009. Penyakit ini ditemukan berjangkit di Amerika Serikat pada April di tengah musim semi. Kemudian gelombang kedua menyebar ke negara-negara belahan bumi utara (Northern Hemisphere) yang beriklim sedang di musim gugur.

Dilansir dari Washington Post, seorang profesor epidemiologi di Universitas Johns Hopkins, Justin Lessler mengatakan meski gelombang kedua dan puncak sekunder dalam periode pandemi secara teknis berbeda, namun pada dasarnya kekhawatirannya tetap sama yaitu penyakit itu akan bangkit kembali.


”Epidemi seperti api. Ketika bahan bakar berlimpah, mereka mengamuk tak terkendali,” ujar Lesser seperti dilansir dari Washington Post, Rabu (6/5). “Dan ketika (bahan bakar) langka, mereka membara perlahan.”

Sementara itu, Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Institute, Amin Soebandrio menyoroti banyaknya negara yang telah melonggarkan kebijakan lockdown. Menurutnya, hal tersebut tetap harus diiringi dengan protokol kesehatan yang ketat seperti aturan memakai masker dan cuci tangan agar mencegah datangnya gelombang kedua wabah corona.

”Bahkan beberapa rekomendasi, walaupun nanti pandemi sudah dikatakan berakhir atau untuk yang merasa sudah bisa mengendalikan, itu tetap harus diberlakukan,” ujar Amin seperti dilansir Liputan6. “Jadi menggunakan masker, physical distancing, cuci tangan itu semua harus dilakukan walaupun pandemi sudah berakhir karena kita mengantisipasi virusnya itu masih circulating hanya saja tidak ada yang bergejala lagi.”

Amin bahkan menekankan jika protokol itu harus diterapkan oleh masyarakat setidaknya selama satu tahun. Apalagi, bukan tidak mungkin gelombang kedua bisa jauh lebih besar dari yang pertama jika virus terus bermutasi menjadi lebih berbahaya.

”Misalkan di Jepang itu sudah kesadaran sendiri, kalau agak flu sedikit atau batuk sedikit pasti pakai masker,” saran Amin. “Kemudian juga hygiene per orangan juga dipelihara, kebersihan lingkungan juga demikian. Jadi memang harus menjadi habit dan gaya hidup dan perilaku sehari-hari.”

”Artinya apakah dia bermutasi, bermutasi maksudnya si virus itu ingin beradaptasi dengan lingkungan. Mutasi virus terjadi secara random, bisa bagus untuk dia, bisa juga tidak bagus untuk dia,” sambungnya. “Bagus untuk virusnya, tidak bagus untuk manusia bisa saja. Dan itu secara random misalkan sekelompok virus yang kebetulan mutasinya menyebabkan dia bisa lebih cepat menyebar atau lebih berat, itu bisa. Kemudian bisa terjadi second wave.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait