Kebakaran terjadi akibat kerusakan listrik. Diduga, listik kelebihan beban karena banyak ventilator yang dipasang di saat bersamaan. Kasus ini tengah diselidiki oleh Komisi Penyidik Rusia atas dugaan kejahatan berat.
- Luthfiatun Nisa
- Rabu, 13 Mei 2020 - 11:28 WIB
WowKeren - Sebanyak lima pasien virus corona (COVID-19) meninggal dunia di St. Petersburg, Rusia, setelah rumah sakit St. George tempat mereka dirawat dilalap api. Kebakaran yang menghanguskan ruang perawatan intensif tersebut tampaknya dipicu oleh korsleting pada unit ventilator, sebagaimana dilaporkan sejumlah kantor berita Rusia.
Kementerian penanganan keadaan darurat Rusia mengatakan sebanyak 150 orang sudah dievakuasi dari rumah sakit setelah api berhasil dipadamkan. Menurut kantor berita TASS, rumah sakit tersebut memang khusus untuk menangani pasien corona. Lima korban tewas adalah pasien corona yang tengah dipasangi ventilator atau alat bantu pernapasan.
Juru bicara pemadam kebakaran setempat mengatakan kebakaran terjadi akibat kerusakan listrik. Diduga, listik kelebihan beban karena banyak ventilator yang dipasang di saat bersamaan. Kasus ini tengah diselidiki oleh Komisi Penyidik Rusia atas dugaan kejahatan berat.
Ini bukan kali pertama kebakaran terjadi di rumah sakit Rusia di tengah pandemi virus corona. Pekan lalu, rumah sakit di Moskow juga dilaporkan terbakar, di mana satu orang dinyatkan meninggal dan ratusan lainnya dievakuasi.
Di sisi lain, Rusia kini berada di urutan ketiga sebagai negara dengan jumlah kasus corona (COVID-19) tertinggi di dunia, setelah menyalip Inggris dan Italia dengan 232,243 kasus terkonfirmasi. Rusia sendiri kini berada di bawah Amerika Serikat yang mencatatkan lebih dari 1,4 juta kasus dan Spanyol dengan 269,520 kasus.
Kasus-kasus COVID-19 harian di Rusia telah meningkat drastis lebih dari 10 ribu dalam 24 jam selama sepekan terkahir ini. Bahkan pada Selasa (12/5) waktu setempat, Rusia mencatatkan rekor sebanyak 11 ribu kasus dalam kurun waktu 24 jam. Sebagian pejabat menghubungan peningkatan ini dengan pengujian massal yang dilakukan pemerintah.
Ibu Kota Rusia, Moskow, dideteksi sebagai wilayah paling parah terkena dampaknya. Di Moskow saja, sudah ada lebih dari 5 ribu kasus dalam 24 jam hingga Selasa (12/5). Dikutip dari media lokal The Moscow Times, Presiden Vladimir Putin memperingatkan bahwa wabah di negara itu belum mencapai puncak.
Kendati angka kasus terus meningkat, namun Vladimir Putin mengumumkan bahwa periode "tidak bekerja" yang berlaku selama enam pekan akan dicabut mulai Selasa (12/5). Sedangkan kebijakan lockdown atau karantina wilayah di Moskow akan tetap ada hingga akhir Mei.
Disebutkan bahwa pekerja pabrik dan konstruksi di Rusia mulai bekerja kembali pada Selasa (12/5), sekalipun angka kasus baru COVID-19 masih tinggi. Sekitar 500 ribu karyawan perusahaan yang terlibat dalam industri dan konstruksi diizinkan untuk melanjutkan pekerjaan mereka dengan syarat wajib mengenakan masker dan sarung tangan di toko-toko dan di angkutan umum.
(wk/luth)