Data yang menunjukkan risiko kematian pria akibat COVID-19 lebih tinggi dari wanita sendiri pertama kali dicatat di Tiongkok. Saat itu, angka kematian menunjukkan 2,8 persen pria yang tertular virus telah meninggal, sedangkan wanita hanya 1,7 persen.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 13 Mei 2020 - 16:44 WIB
WowKeren - Pria disebut lebih berpotensi meninggal dunia karena infeksi virus corona (COVID-19) dibandingkan wanita. Para peneliti pun menemukan penyebabnya, ternyata hal ini berkaitan dengan sebuah enzim yang berada di paru-paru.
Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan di European Heart Journal tersebut, kadar enzim angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) pada paru-paru laki-laki disebut lebih tinggi dibanding di paru-paru wanita. Hal tersebut membantu virus corona penyebab COVID-19 bisa bertahan lebih lama di paru-paru pria.
Penelitian menemukan bahwa konsentrasi ACE2 yang lebih tinggi pada subjek pria dibandingkan dengan wanita. Sampel tersebut terdiri dari 3,5 ribu orang tua yang pernah mengalami gagal jantung.
Meski demikian, tidak ada satu pun dari subjek penelitian tersebut yang terinfeksi virus corona. Namun para peneliti melihat kemungkinan korelasi antara ACE2 sebagai sarang virus itu.
Enzim ACE2 yang ditemukan di sejumlah organ, termasuk paru-paru, tersebut berikatan dengan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Ikatan ini memungkinkan SARS-CoV-2 untuk lebih mudah menginfeksi sel sehat.
Profesor kardiologi yang memimpin studi tersebut, Adiran Vooris, menyebut bahwa kandungan ACE2 yang tinggi di paru-paru memainkan peran penting dalam infeksi Covid-19. "Kadar ACE2 yang tinggi di paru-paru, dianggap punya peran penting dalam perkembangan gangguan paru-paru terkait dengan Covid-19," ungkap profesor dari University Medical Center Groningen Belanda tersebut, dilansir Business Insider pada Rabu (13/5).
Selain reseptor ACE2, peneliti juga mengangkat beberapa teori lain tentang mengapa pria tampaknya lebih rentan terkena virus. Salah satu teori di antaranya adalah sistem kekebalan wanita dapat berfungsi berbeda adalah karena kromosom X ekstra yang dimiliki wanita.
Di sisi lain, studi yang telah melalui proses penelaah sejawat atau peer reviewer ini juga memperkuat studi sebelumnya yang telah dilakukan di 6 negara. Studi sebelumnya memang menyebut bahwa pria lebih rentan terinfeksi dan meninggal akibat virus corona.
Sementara itu, data yang menunjukkan risiko kematian pria akibat COVID-19 lebih tinggi dari wanita sendiri pertama kali dicatat di Tiongkok. Saat itu, angka kematian menunjukkan bahwa 2,8 persen pria yang tertular virus telah meninggal, sedangkan wanita sebesar 1,7 persen.
(wk/Bert)