Penyebab tertinggi meningkatnya kematian adalah kondisi kekurangan gizi serta pengurangan dalam pengobatan sepsis neonatal dan pneumonia. UNICEF khawatir ini adalah dampak pandemi COVID-19.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 13 Mei 2020 - 20:46 WIB
WowKeren - Sebuah laporan PBB mengungkap kematian akibat penyakit pada anak-anak di bawah lima tahun yang umumnya dapat dicegah, diprediksi akan meningkat hampir 45 persen selama enam bulan ke depan. Studi tersebut diterbitkan oleh The Lancet Global Health.
Penelitian itu menyebutkan jika di negara-negara miskin seperti di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, jumlah balita yang meninggal akan mengalami penambahan sekitar 1,2 jiwa selama periode tersebut. Tak hanya pada bayi, prediksi angka kematian ibu juga menjadi sorotan, yakni sekitar lebih dari 56 ribu orang.
Prediksi ini didasarkan dengan menghitung dampak dari adanya pengurangan keluarga berencana, perawatan antenatal dan postnatal (sebelum dan pasca melahirkan), kelahiran anak, vaksinasi, dan layanan pencegahan dan pengobatan. Peningkatan ini, diprediksi akan menjadi yang terburuk selama beberapa puluh tahun terakhir.
"Di bawah skenario terburuk," kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore dilansir Deutsche Welle, Rabu (13/5). "Jumlah anak yang meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka secara global dapat meningkat untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade."
Adapun penyebab tertinggi penambahan angka kematian disebabkan karena kondisi kekurangan gizi serta pengurangan dalam pengobatan sepsis neonatal dan pneumonia. UNICEF khawatir ini merupakan dampak dari pandemi COVID-19 yang tengah berlangsung.
UNICEF memprediksi 10 negara akan mengalami penambahan terbesar jumlah kematian pada anak yakni Bangladesh, Brasil, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, Uganda, dan Republik Persatuan Tanzania.
Fore melanjutkan jika pandemi COVID-19 bisa berdampak pada krisis terhadap pemenuhan hak-hak anak. UNICEF sendiri telah menerima sekitar Rp 3,2 triliun untuk membantu anak-anak yang menderita akibat krisis kemanusiaan dan sekarang diperburuk dengan pandemi corona. UNICEF menemukan sekitar 77 persen atau 1,8 miliar anak-anak, tinggal di salah satu dari 132 negara yang memberlakukan pembatasan sosial sebagai upaya mencegah penyebaran COVID-19.
"Pandemi adalah krisis kesehatan yang dengan cepat menjadi krisis hak anak," kata Fore. "Dana ini akan membantu kami menanggapi krisis, pulih dari akibatnya, dan melindungi anak-anak dari efeknya."
(wk/zodi)