Berdasarkan data terbaru di laman worldometers.info, hingga kini ada sekitar 288 kasus positif corona di Vietnam, di mana 252 di antaranya dinyatakan sembuh dan sama sekali belum ada korban jiwa.
- Luthfiatun Nisa
- Kamis, 14 Mei 2020 - 10:39 WIB
WowKeren - Wabah virus corona alias COVID-19 yang menyebar dari Wuhan, Tiongkok, telah menginvasi seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali berbagai negara di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya adalah Vietnam, yang rupanya hingga Kamis (14/5) belum mencatatkan satupun korban meninggal akibat virus corona.
Berdasarkan data terbaru di laman worldometers.info, hingga kini ada sekitar 288 kasus positif corona di Vietnam, di mana 252 di antaranya dinyatakan sembuh dan sama sekali belum ada korban jiwa. Dengan ini, Vietnam hanya memiliki kasus aktif sebanyak 36 pasien.
Terkait hal ini, Mike Toole selaku pakar penyakit menular dari Burnet Institute di Melbourne, Australia, membandingkan cara Vietnam menghadapi pandemi dengan apa yang dilakukan oleh Singapura. "Australia banyak sekali memperhatikan Singapura, namun Singapura sekarang ini merupakan salah satu kegagalan terbesar di dunia," kata Mike Toole. "Vietnam dalam situasi yang berbeda. Saya kira ini merupakan keberhasilan luar biasa bagi negara sebesar itu."
"Mereka tidak melihat ini sebagai flu biasa," lanjut Professor Toole. "Mereka menggambarkan gejala yang ada, mereka memberikan informasi dimana warga bisa melakukan tes."
Saat disinggung soal keakuratan data, direktur Plan Internasional untuk Vietnam, Sharon Kane, menyebut bahwa tidak ada satu pun dari 13 pusat pelayanan pemakaman di Hanoi yang melaporkan adanya peningkatan pemakaman di masa pandemi. "Saya tidak melihat adanya hal yang mengkhawatirkan mengenai akurasi atau ketidakterbukaan soal jumlah," kata Sharon Kane.
"Ada kejujuran dalam pelaporan dan kesadaran dari pemerintah sejak awal Januari mengenai sumber daya yang terbatas bila terjadi pandemi, sehingga Vietnam mengambil tindakan segera untuk menguasai keadaan," lanjutnya.
Vietnam sendiri memang menjadi salah satu negara yang dianggap mampu menekan angka pandemi corona. Pada pertengahan Februari lalu, Vietnam bahkan mampu menyembuhkan seluruh pasien yang terinfeksi virus corona.
Kala itu, ada sekitar 16 pasien yang dinyatakan sembuh dan dipulangkan dari rumah sakit. Penyebaran virus ini mampu diredam hingga awal Maret, sebelum akhirnya Vietnam mengonfirmasi ada dua kasus baru.
Kunci kesuksesan Vietnam adalah melakukan tes dengan strategis, aktif mencari orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan mereka yang dinyatakan positif. Selain itu mereka juga menggelar kampanye informasi yang efektif.
Vietnam juga memiliki protokol kesehatan yang membuat mereka mampu menekan pandemi corona. Protokol kesehatan yang diadopsi Vietnam nampaknya berhasil menilai infeksi dan tingkat keparahan virus, sehingga dapat menyembuhkan pasien.
Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Xuan Phuc, mengungkapkan bahwa para dokter diharuskan untuk mengobati gejala virus seperti menangani demam. Kemudian pasien diwajibkan menjalani diet ketat dan bergizi. Setelahnya, mereka akan memonitor tingkat penyerapan oksigen dalam darah pasien.
Protokol ini dinilai cukup efektif dan membuat Vietnam mampu menekan jumlah korban akibat pandemi corona. Bahkan perwakilan WHO di Vietnam mengatakan sikap "proaktif dan konsistensi pemerintah selama tanggapan" membuat mereka berhasil memerangi kasus di tahap awal krisis.
"Negara ini telah mengaktifkan sistem responsnya pada tahap awal wabah, dengan mengintensifkan pengawasan, meningkatkan pengujian laboratorium, memastikan pencegahan dan pengendalian infeksi serta manajemen kasus di fasilitas kesehatan, pesan komunikasi risiko yang jelas, dan juga kolaborasi multi-sektoral," tutur perwakilan WHO di Vietnam tersebut.
Sebagai informasi tambahan, Vietnam pertama kali melaporkan dua kasus positif corona pada 23 Januari, dimana kedua pasien tersebut adalah warga negara Tiongkok. Setelahnya, pemerintah Vietnam dengan tanggap melarang masuknya turis dari Tiongkok dan Korea Selatan, membatasi kedatangan dari luar negeri, dan mewajibkan para pendatang untuk menjalani karantina selama 14 hari di pusat pengendalian pemerintah. Dan sejak pekan lalu, kedatangan dari luar negeri telah dilarang sepenuhnya guna mencegah penyebaran virus corona.
(wk/luth)