CIA Klaim Tiongkok Sengaja Halangi WHO Umumkan COVID-19 Sebagai Pandemi Global
Dunia

Beijing pertama kali menginformasikan soal COVID-19 kepada WHO pada 31 Desember, namun mengancam untuk tak mengumumkannya. Baru pada 30 Januari WHO mengumumkan COVID-19 sebagai pandemi.

WowKeren - Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat alias Central Intelligence Agency (CIA) meyakini bahwa Tiongkok berusaha menghalangi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mengumumkan virus corona (COVID-19) sebagai wabah.

Berdasarkan laporan yang diungkap dua sumber intelijen, Tiongkok saat itu disebutkan tengah menimbun peralatan medis dari seluruh dunia. Dalam pemberitaan yang dipublikasikan Newsweek, dilaporkan pula bahwa Tiongkok mengancam tidak akan bekerja sama dalam investigasi corona jika WHO mengumumkan virus tersebut sebagai wabah.

Dokumen CIA yang bertajuk "U.N.- China: WHO Mindful But Not Beholden to China" itu muncul di tengah laporan lain dari Kementerian Keamanan Dalam Negeri (DHS). Dalam laporan dari DHS, Beijing disebut sengaja menunda informasi mengenai COVID-19 pada Januari guna mengumpulkan peralatan medis dari seluruh dunia.

Beijing pertama kali menginformasikan mengenai COVID-19 kepada WHO pada 31 Desember, sebelum secara resmi memberitahukannya ke AS pada 3 Januari. Kemudian di 20 Januari, Beijing melaporkan adanya kasus transmisi antar-manusia, tanda bahwa virus corona ini lebih menular dari yang pertama diketahui.

Kemudian WHO mengadakan dua pertemuan pada 22 dan 23 Januari untuk menentukan apakah penyakit ini bisa dianggap sebagai kondisi darurat. Namun, dua pertemuan tersebut tak menghasilkan kesepakatan, Baru pada 30 Januari, organisasi kesehatan itu menyepakati SARS-Cov-2 sebagai pandemi.


Ini adalah laporan kedua dari telik sandi negara Barat, dan berpotensi memanaskan hubungan dengan Tiongkok di tengah pandemi corona ini. Laporan pertama tudingan terhadap Beijing itu dibuat oleh intelijen Jerman, dan dimuat oleh harian ternama setempat, Der Spiegel, pada pekan lalu.

Laporan itu menyebutkan Presiden Xi Jinping sendiri yang menekan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada 21 Januari. Badan kesehatan di bawah PBB itu membantah sudah diintervensi, berdasarkan keterangan dari juru bicara Christian Lindmeier. Namun, dia menolak menjawab terkait pertanyaan apakah Beijing berupaya menunda atau mungkin mengubah pengumuman Kepedulian Internasional mengenai Darurat Kesehatan Masyarakat (PHEIC).

Lindmeier menerangkan, selama wabah, organisasinya bergerak berdasarkan mandat mereka yang merujuk kepada bukti ilmiah untuk melindungi warga dunia. "WHO mendasarkan rekomendasinya berdasarkan sains, data, nasihat pakar independen, maupun penerapan dari kesehatan publik," tegas Lindmeier.

Dia juga mengklaim kalau Dirjen WHO, Dr Tedros, tidak bertemu Presiden Xi Jinping pada 21 Januari, melainkan 28 Januari di Beijing. Dalam agenda itu, mereka tidak membahas mengenai PHEIC. Berdasarkan pernyataan dari sumber intelijen AS, dirinya tidak bisa menekankan apakah Presiden Xi memainkan peranan dalam menekan organisasi kesehatan itu.

Ketika WHO mengumumkan darurat kesehatan publik pada 30 Januari, keputusan tersebut menuai kemarahan dari sebagian negara Barat. Termasuk Presiden AS Donald Trump yang menyebut badan itu "China-sentris", dan kemudian memutuskan membekukan penadanannya pada Maret.

Beijing sendiri menuai sorotan sekaligus kritikan ketika virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu menjangkiti Wuhan pada Desember 2019. Dimulai dari tudingan pembungkaman terhadap dokter yang menyuarakan peringatan, hingga menunda pengumuman selama enam hari. Akibatnya, orang-orang pun meninggalkan Wuhan dan menyebarkan virus itu ke seluruh dunia.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait