Ternyata Begini Perjalanan Virus Corona Menginfeksi Tubuh Sampai Pasien Meninggal
Health

Menjadi pertanyaan besar bagaimana virus Corona bisa sampai menyebabkan sang pasien meninggal dunia. Lembaga Biologi Molekuler Eijkman pun memberikan jawaban soal ini.

WowKeren - Masih banyak pertanyaan soal wabah virus Corona yang belum bisa dijawab oleh para ilmuwan. Tentu saja hal ini tak lepas dari fakta bahwa virus Corona merupakan entitas baru di bumi.

Salah satu yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana perjalanan virus Corona di dalam tubuh inang terinfeksi hingga menyebabkan kematian. Namun khusus untuk pertanyaan ini rupanya sudah mendapatkan jawaban dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta.

Wakil Kepala LBM Eijkman Bidang Penelitian Translasional, David Handojo Muljono, menyatakan setidaknya ada 5 "check points" yang dialami pasien positif COVID-19. Setiap tahapan ini memiliki ciri-ciri yang berbeda pula.

Menurut David, fase pertama adalah tahap tanpa gejala. Pada fase ini virus sudah masuk ke tubuh manusia dan berkembang.

"Memasuki fase klinis yang kedua adalah fase dini," jelas David, seperti dilansir dari CNN Indonesia, Senin (18/5). Di fase ini mulai muncul sejumlah gejala namun tidak spesifik, seperti demam, sakit kepala, batuk, hingga diare, mual, atau muntah.

Selanjutnya pasien akan memasuki fase sedang, dimana peran virus Corona mulai berkurang. Namun bukannya mengurangi gejala klinis yang dialami, pasien justru menderita sejumlah peradangan atau inflamasi sebagai bentuk perlawanan sistem imun tubuh terhadap virus.

Saat ini biasanya pasien lansia mulai mengalami pneumonia. Namun untuk pasien remaja dan dewasa gejala ini biasanya tidak muncul.


"Ini harus diawasi karena pasien ini sudah termasuk pasien yang harus diobati. Dianjurkan dirawat di rumah sakit," jelas David.

Pada fase ini juga sistem imun mulai aktif. Hal ini dibuktikan dari adanya antibodi IgM dan IgG yang biasa dideteksi dengan rapid test.

Selanjutnya pasien akan memasuki fase berat, dimana respons imun sangat dominan. Tak hanya itu, terjadi peradangan hebat atau hiperinflamasi di dalam tubuh pasien yang menjadi keluhan utama para pasien.

Bila memasuki fase ini, tenaga medis harus benar-benar memantau pasien. Sebab biasanya mereka bisa mengalami kesulitan bernapas, gejala pneumonia berat, hingga kehilangan kesadaran.

Pada fase ini pula paru-paru penderita COVID-19 mulai mengalami kerusakan permanen. Reaksi hiperinflamasi menyebabkan sel-sel alveoli paru-paru, yang bertanggung jawab sebagai lokasi pertukaran oksigen dan karbondioksida, mengalami kebocoran.

Bila dibiarkan, lama-kelamaan alveoli yang bisa menjadi lokasi pertukaran oksigen-karbondioksida semakin berkurang. Pasien di situasi ini pun semakin kesulitan bernapas, bahkan ketika sudah didukung ventilator.

"Itu terjadi karena salah satunya alveoli sudah berubah dilapisi membran hialin," jelas David. Sehingga, imbuh David, dapat disimpulkan bahwa reaksi hiperinflamasi atau peradangan hebat oleh sistem imunitas lah yang menyebabkan kondisi pasien semakin memburuk bahkan sampai meninggal dunia.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait