L Brands selaku perusahaan yang menaungi label pakaian dalam asal AS tersebut melaporkan penjualan Victoria's Secret turun hingga 46 persen selama kuartal pertama yang berakhir pada 2 Mei 2020.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 22 Mei 2020 - 13:29 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) benar-benar memengaruhi banyak sektor industri. Bahkan wabah ini juga membuat sejumlah sektor lumpuh total, yang pada akhirnya berakibat pada kelangsungan bisnis maupun nasib para pekerja. Terbukti, label pakaian dalam kenamaan Victoria's Secret dilaporkan telah menutup sekitar 250 gerai mereka di AS dan Kanada akibat pandemi ini.
Dikutip dari USA Today pada Jumat (22/5), L Brands selaku perusahaan yang menaungi label pakaian dalam asal Amerika Serikat itu, melaporkan mengalami kerugian yang signifikan akibat COVID-19. Penjualan Victoria's Secret turun hingga 46 persen selama kuartal pertama yang berakhir pada 2 Mei 2020.
Sebelum terjadinya pandemi virus corona, Victoria's Secret memang sudah kesulitan meningkatkan penjualan. Hal ini dipicu oleh munculnya sejumlah label pakaian dalam alias lingerie yang menawarkan konsep berbeda dalam menginterpretasikan keseksian wanita.
Brand lingerie seperti Aerie, ThirdLove dan Savage x Fenty milik Rihanna misalnya, yang dikenal gencar mengampanyekan citra positif tubuh wanita yang artinya wanita bisa tampil seksi dan menarik. Apa pun bentuk dan ukuran tubuhnya. Hal tersebut berbeda dengan Victoria's Secret yang dikenal lebih memilih menggunakan model seksi dengan tubuh langsing daripada plus size.
Selain itu produk push-up bra atau lingerie stylish dengan hiasan pita, renda dan bordiran mewah, yang menjadi salah satu ciri khas rancangan Victoria's Secret juga mengalami penurunan penjualan. NPD Group, firma penelitian dalam hal pemasaran, menunjukkan data bahwa beberapa tahun belakangan wanita lebih banyak mencari pakaian dalam yang nyaman ketimbang stylish. Penjualan sports bra pun dilaporkan meningkat dan kian populer di kalangan milenial.
Sementara itu, L Brands menyatakan sementara akan lebih fokus mengatur inventaris dan menjual lebih banyak produk dengan harga normal alias tanpa diskon. Sementara itu Bath & Body Works, brand perawatan tubuh yang juga berada di bawah payung L Brands, masih lebih beruntung.
Bath & Body Works mencatatkan penurunan penjualan di toko sekitar 18 persen. Penjualan lewat online justru meningkat hingga 85 persen. Sebagian besar berasal dari pembelian hand sanitizer dan sabun cuci tangan.
(wk/luth)