Aksi Demo Kematian George Floyd Picu Warga Jepang 'Bergerak' Lawan Rasisme
Dunia

Kasus rasisme yang dilakukan oleh oknum polisi rupanya juga terjadi di Negeri Sakura Jepang. Hal ini lantas menimbulkan gerakan demonstrasi warga untuk menghentikan praktek rasisme tersebut.

WowKeren - Kasus kematian seorang pria berkulit hitam George Floyd tengah menjadi sorotan dunia hingga saat ini. Pasalnya, pria tersebut merupakan korban dari sikap rasisme yang terjadi di Negara Paman Sam tersebut.

Namun, baru-baru ini diketahui, kejadian serupa juga terjadi di Negeri Matahari Terbit, Jepang. Insiden rasisme yang melibatkan pihak kepolisian tersebut terjadi pada Jumat (22/5), pukul 1 siang waktu setempat di Meiji Doori, Hiroo, Distrik Shibuya, Tokyo.

Peristiwa tersebut diabadikan dalam sebuah video yang tengah viral di media sosial. Dalam video tersebut terlihat 2 orang petugas polisi menghadang seorang pria di depan mobil polisi di sebuah jalan ramai sementara satu orang pertugas lainnya terlihat berdiri di samping sebuah mobil yang diberhentikan dengan 2 orang penumpang di dalamnya.

Sang pria yang merupakan warga Kurdi ini terdengar mengucapkan sesuatu berulang kali dalam bahasa Jepang, “Aku tidak melakukan apapun!” dan “Lari, pergi dari sini!” sebelum akhirnya ia meminta tolong pada orang yang merekamnya. Sementara itu, para petugas polisi memaksanya untuk “berhenti” berulang kali sambil memegangnya.

Dalam video tersebut juga memperlihatkan petugas polisi yang terlihat lebih tua memaksa agar pria Kurdi itu berlutut dengan menggunakan taiho jutsu (teknik menahan) yang melibatkan beberapa gerakan judo untuk menahan orang tanpa menggunakan pistol, taser, atau semprotan merica sama sekali.

Seorang jurnalis freelance Hideki Kashida, melalui akun Twitternya, mengatakan bahwa pria Kurdish tersebut akhirnya dilepaskan oleh pihak kepolisisan tak lama setelah video tersebut diambil. Menurut Kashida, pria tersebut ditahan setelah ia menyapa para polisi dengan kalimat “gokurosama desu” yang bisa diartikan sebagai “terima kasih atas kerja kerasnya”, meski kalimat tersebut biasanya digunakan ketika berbicara pada seorang bawahan.

"Sebenarnya, sepuluh menit setelah kejadian, ia dibebaskan karena memang tidak melakukan apa-apa. Dia hanya mengatakan, “gokurosama desu” kepada seorang petugas yang bertatap muka dengannya. Meski begitu, sekumpulan pendemo dikabarkan akan berkumpul di depan patung Hachiko pada pukul 3 sore pada hari Sabtu (30/5) untuk menuju ke Kantor Polisi Shibuya untuk melakukan aksi unjuk rasa. Banner dan plakat diizinkan. Orang yang terluka (oleh polisi dalam vdeo) sepertinya akan ikut hadir dalam unjuk rasa tersebut.”


Meski kejadian tersebut masih simpang siur dan belum terbukti kebenarannya hingga kini. Namun, insiden ini membuat penduduk Jepang menyadari isu rasisme di Negeri Sakura tersebut.

Demo Rasisme Jepang

Twitter

Didorong oleh protes terhadap polisi yang saat ini terjadi di AS, sekitar 200 pendemo melakukan aksi protes di Tokyo. Mereka berjalan melalui persimpangan Shibuya sambil membawa plakat bertuliskan "f**k the police" dan "polisi rasis wajib dihukum" dalam bahasa Inggris dan Jepang.

Politukus Jepang Taiga Ishikawa juga terlihat turun ke jalan untuk berbicara pada para demonstran untuk menunjukkan dukungannya. Ia mengatakan jika salah satu petugas yang terlibat dalam insiden tersebut menyita smartphone perekam saat ia menyadari bahwa aksinya telah direkam dan menghapus video tersebut. Namun, video tetap aman karena sebelumnya sudah diunggah ke situs penyimpanan cloud.

Para demonstran pun turut menggemakan tagar #0530渋谷署抗議 yang berarti "0530 aksi demo Stasiun Shibuya" untuk membagikan foto dan video terkait apa yang terjadi saat demonstrasi berlangsung di media sosial. Menurut pengguna Twitter di bawah, seorang pria ditahan setelah menerobos garis polisi dan memasuki bangunan kantor polisi pada pukul 5.03 sore.

Di Jepang sendiri, memang tidak aneh jika orang-orang yang terlihat tidak memiliki fisik layaknya orang Jepang pada umumnya diberhentikan oleh polisi di jalan untuk memperlihatkan kartu identifikasi mereka. Adanya praktik ini mempengaruhi orang asing non-kulit putih di Jepang.

Para polisi sendiri beralasan bahwa hal ini dilakukan untuk melihat mereka yang sebagian besar merupakan pekerja berketerampilan rendah yang dibawa dari bagian lain Asia sebagai bagian dari inisiatif pemerintah untuk menanggulangi kekurangan tenaga pekerja agar tidak tinggal di Jepang lebih dari masa berlakunya visa mereka.

Penargetan individu berdasarkan penampilan ini memang telah menjadi suatu aspek kehidupan di Jepang yang membuat para turis dan penduduk asing khawatir. Namun, adanya demo yang dipicu oleh insiden yang terjadi di Amerika tersebut membuktikan bahwa masih banyak orang (termasuk warga Jepang) lelah dengan masalah rasisme dan mulai mengambil sikap unruk melawan ketidakadilan para polisi terhadap orang asing.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts