RI Dihantam Pandemi Corona 3 Bulan, Negara ‘Babak Belur’ Alami Kerugian Segini
Reuters/Willy Kurniawan
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Indonesia telah dihantam pandemi virus corona (COVID-19) dalam 3 bulan terakhir ini. Terungkap, keuangan negara juga sudah mulai ‘babak belur’. Berapa kerugiannya?

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) tidak hanya mengancam nyawa masyarakat, namun juga mengguncang dunia perekonomian. Tepat hari ini, Selasa (2/6) merupakan tepat bulan ketiga wabah virus corona menyerang Indonesia.

Dalam tiga bulan terakhir ini, berbagai kebijakan hingga perubahan hidup yang cukup drastis telah diterapkan pemerintah beserta masyarakat Tanah Air. Bahkan, pemerintah juga telah menanggung kerugian yang begitu besar dalam penanganan virus corona selama 3 bulan terakhir ini.


Berdasarkan laporan dari Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kerugian negara akibat pandemi COVID-19 telah mencapai Rp316 triliun. Kepala Pusat Kebijakan Makro Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu, Hidayat Amir menjelaskan kerugian ini dihitung dari realisasi pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada kuartal I-2020.

Tercatat, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I tahun 2020 ini mencapai 2,97 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Padahal, Indonesia dalam situasi normal kerap mencatatkan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 5 persen.

Dengan perhitungan ini, maka terjadi minus pertumbuhan ekonomi sekitar 2,03 persen. “Itu kalau dikuantitatifkan, tinggal di-kali saja PDB saat ini sekitar Rp15.800 triliun di-kali 2 persen,” jelas Hidayat dalam video conference, seperti dilansir dari CNBCIndonesia, Selasa (2/6).

Dari perhitungan diatas lantas dapat disimpulkan jika kerugian Indonesia selama pandemi yang berlangsung tiga bulan ini kurang lebih Rp316 triliun. Lebih lanjut Hidayat menjelaskan saat ini BKF sedang melakukan pendekatan baru dalam melacak jenis kegiatan ekonomi selama pandemi COVID-19.

Hidayat berharap dengan cara tersebut, pemerintah dapat mengetahui dan memanfaatkan sektor mana saja yang perekonomiannya masih stabil saat ini. Hal ini bertujuan agar pemerintah bisa memprioritaskan kegiatan-kegiatan yang berpotensi tumbuh dan membantu dalam meningkatkan perekonomian yang sedang tertekan semasa pandemi.

Kini, peningkatan jumlah penduduk miskin diprediksi akan bertambah sebanyak 1,89 juta jiwa dan angka pengangguran baru bertambah 2,92 juta untuk skenario berat. Sedangkan untuk skenario terburuk, angka kemiskinan bisa meningkat 4,86 juta dan pengangguran 5,23 juta.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts