Studi Inggris Sebut Orang Asia dan Kulit Hitam Lebih Rentan Meninggal Akibat COVID-19
Dunia
Pandemi Virus Corona

Orang-orang Tiongkok, India, Pakistan atau etnis Asia lainnya, serta orang kulit hitam memiliki risiko kematian antara 10 hingga 50% lebih tinggi daripada mereka yang berada dalam kelompok kulit putih di Inggris.

WowKeren - Menurut sebuah studi dari Public Health England (PHE), orang Asia dan kulit hitam di Inggris memiliki kemungkinan hingga 50% lebih tinggi untuk meninggal setelah terinfeksi COVID-19. Studi ini sekaligus memberikan tekanan pada pemerintah untuk melindungi komunitas yang paling berisiko.

Laporan itu mengatakan bahwa orang-orang etnis Bangladesh memiliki risiko dua kali lipat kematian orang-orang berkulit putih Inggris. Orang-orang Tiongkok, India, Pakistan atau etnis Asia lainnya, serta orang-orang Karibia atau etnis kulit hitam lainnya, memiliki risiko kematian antara 10 hingga 50% lebih tinggi daripada mereka yang berada dalam kelompok kulit putih Inggris, kata PHE.

Laporan itu diterbitkan sehari sebelum protes yang direncanakan di London tentang kematian George Floyd, seorang warga kulit hitam AS yang meninggal setelah seorang polisi kulit putih menjepit lehernya di bawah lutut selama hampir sembilan menit di Minneapolis pada 25 Mei lalu. Temuan ini sekalius memperkuat penelitian sebelumnya oleh Office for National Statistics (ONS) dan University College London (UCL) yang dirilis bulan lalu.

Bulan lalu, analisis baru dari University College London (UCL), orang Asia beserta kelompok-kelompok kulit hitam dan etnis minoritas (BAME) di Inggris berisiko dua hingga tiga kali lebih mungkin meninggal akibat virus corona (COVID-19) dibandingkan dengan populasi umum.

"Analisis ini menunjukkan kematian akibat COVID-19 secara proporsional lebih tinggi pada kelompok kulit hitam, Asia dan minoritas," kata Dr Delan Devakumar dari UCL.

Analisis yang diterbitkan Wellcome Open Research ini menggunakan data NHS (National Health Service) dengan 16,272 pasien yang meninggal di rumah sakit di Inggris dan dinyatakan positif COVID-19 antara 1 Maret dan 21 April.


Data tersebut mengungkapkan risiko kematian sekitar 3,24 kali lebih tinggi untuk orang kulit hitam, 2,41 kali lebih tinggi untuk orang Bangladesh, 2,21 kali lebih tinggi untuk orang kulit hitam Karibia dan 1,7 kali lebih tinggi untuk orang India dibandingkan dengan populasi umum.

Untuk kelompok etnis, jumlah total kematian terbesar adalah orang India, dengan 492 kematian dari 16,272 pasien. Diketahui bahwa India adalah kelompok etnis minoritas tunggal terbesar di Inggris.

Bahkan di negara-negara dengan tingkat kematian yang lebih rendah, para peneliti juga menemukan kelompok BAME menghadapi tingkat kematian yang lebih tinggi daripada populasi lainnya.

Para ahli mengatakan, hambatan mengakses layanan kesehatan serta faktor-faktor risiko sosial dan ekonomi bisa menjadi alasannya. Mereka mungkin hidup dalam kondisi yang buruk dan lebih mungkin memiliki kondisi yang sudah ada sebelumnya seperti diabetes dan penyakit jantung, membuat mereka lebih rentan terhadap COVID-19.

Di sisi lain, Inggris sendiri kini menjadi negara kedua dengan tingkat kematian akibat COVID-19 tertinggi di dunia, dengan 39,728 korban jiwa. Negara monarki tersebut telah mencatatkan sebanyak 279,856 kasus COVID-19 hingga berita ini ditulis.

Inggris juga diketahui telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi jumlah kematian akibat corona. Salah satunya menginjeksi plasma darah dari pasien corona yang sembuh (konvalesen) kepada pasien corona yang parah. Metode penyembuhan dengan menginjeksi plasma itu, yang bertujuan membentuk antibodi melawan virus, dianggap berhasil menangani pasien pada kasus SARS selama 2002-2004.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts