Pengungsi Rohingya Tak Mau Lakukan Tes Corona Meski Rasakan Gejala Karena Takut Diisolasi
AFP
Dunia
Pandemi Virus Corona

Sebenarnya gejala COVID-19 telah lazim di kamp pengungsi Rohingnya. Beberapa pengungsi di kamp-kamp itu memiliki gejala seperti demam, batuk kering, dan masuk angin pada awal musim hujan.

WowKeren - Pengungsi Rohingya di Bangladesh yang memiliki gejala virus corona (COVID-19) enggan menjalani tes. Menurut pemimpin masyarakat dan pekerja bantuan, disebutkan bahwa mereka tak mau dites karena takut berpisah dengan keluarga dan diisolasi.

Dilansir dari Reuters pada Sabtu (6/6), sebenarnya gejala COVID-19 telah lazim di kamp-kamp yang terbentang di perbukitan dekat perbatasan dengan Myanmar. Sementara beberapa pengungsi di kamp-kamp itu memiliki gejala seperti demam, batuk kering, dan masuk angin pada awal musim hujan, banyak yang menduga itu adalah virus corona.

"Mereka tidak ingin diuji," kata seorang pengungsi. "Kami sangat takut. Atas karunia Allah, kami baik-baik saja sejauh ini. Tetapi berapa lama kami bisa bertahan?"

Kamp-kamp yang padat dengan sanitasi buruk membuat jarak sosial tidak mungkin dilakukan. Pekerja bantuan khawatir virus corona mungkin menyebar lebih cepat di penampungan pengungsi terbesar dunia, daripada hanya 29 kasus yang tercatat sejak pertengahan Mei. Sejauh ini, hnya 339 tes telah dilakukan di kamp, sebagian karena orang tidak pergi ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa.


"Rumah sakit di kamp kosong dan toko-toko dokter ilegal penuh," kata salah satu pengungsi, Mujef Khan. Ia merujuk pada apotek di kamp-kamp yang dikelola oleh pengungsi, tempat orang membeli pil untuk mengobati diri mereka sendiri. "Banyak orang sakit hari demi hari di setiap tempat penampungan," lanjutnya.

Dua tim peneliti mengatakan mereka telah menemukan bukti bahwa para pengungsi dengan gejala corona enggan pergi ke dokter. Peneliti dari Yale University tersebut berbicara kepada ratusan pengungsi pada April dan menemukan sekitar seperempat dari mereka melaporkan setidaknya satu gejala virus corona. Sementara gejalanya dua kali lebih umum di kamp dibandingkan dengan masyarakat Bangladesh di sekitarnya.

Karena pengujian sangat terbatas dan pengungsi takut pergi ke dokter, sulit untuk mengetahui penyebaran sebenarnya dari penyakit ini. "Semua indikasi pelengkap lainnya dalam data kami adalah bahwa prevalensi penyakit kemungkinan jauh lebih tinggi," kata Ahmed Mushfiq Mobarak, profesor Ekonomi di Yale.

Para peneliti dari Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) menemukan bahwa kunjungan ke klinik turun 50 persen pada Maret. Sementara beberapa pasien virus corona berusaha bersembunyi dari petugas kesehatan. "Orang-orang tidak perlu diuji infeksi virus corona. Mereka takut diisolasi dan dikarantina," kata seorang pejabat pemerintah Bangladesh.

Sementara itu, pada Selasa (2/6) lalu Bangladesh melaporkan kematian pertama akibat virus corona (COVID-19) di kamp pengungsi Rohingya. Dikonfirmasi bahwa korban adalah seorang pria berusia 71 tahun.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts