Usai Korsel, Korut Kini 'Ngambek' Mau Putus Dengan Amerika Serikat?
AP
Dunia

Korea Utara memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk memutuskan hubungan yang terjalin antara kedua negara. Korut pun menganggap pihak AS sebagai ancaman bagi mereka.

WowKeren - Korea Utara mengeluarkan peringatan baru ke Amerika Serikat (AS). Korut mengaku sulit mempertahankan hubungan pribadi yang terjalin antara Presiden Kim Jong Un dengan Presiden AS Donald Trump.

Pasalnya, Korut menganggap Washington selalu mengeluarkan kebijakan yang bermusuhan dengan Pyongyang. Bahkan, kebijakan AS dianggap bukti bahwa negeri itu akan jadi ancaman panjang bagi Korut dan rakyatnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Korut Ri Son Gwon. "Dan, Korut akan mengembangkan pasukan militer lebih handal untuk menghadapi ancaman ini," ujarnya dilansir Rueters, Jumat (12/6).

Ri mengatakan Trump tampaknya hanya fokus pada hal-hal politis, sambil berupaya mengisolasi dan "mencekik" Korut. Pemerintahan Trump dianggap selalu menyerang nuklir Korut dan meminta perubahan rezim.

"Kami tidak akan pernah lagi menerima paket (kebijakan) dari pemimpin AS tanpa adanya imbalan tertentu," ujarnya. "Tidak ada yang lebih munafik dari janji kosong."


Sebelumnya, AS berkata kepada media Korsel Yonhaap, Kamis (11/6), bahwa negara itu ingin kembali berdialog dengan Korut. "Terbuka untuk berdialog dengan pendekatan yang fleksibel untuk mencapai kesepakatan yang sama," ujar perwakilan AS.

Ketegangan antara Korut dan AS juga terkait konflik duo Korea. Di mana sebelumnya AS mengecam langkah Korut memutus hubungan komunikasi dengan Korsel.

Korut sendiri mengambil langkah tersebut karena menganggap Korsel tak maksimal membendung massa pro anti Pyongyang yang kerap mengirimkan selebaran mengkritik Kim Jong Un. Bukan cuma komunikasi, hubungan militer juga diputus sejak Selasa pekan ini.

Perlu diketahui, hubungan Trump dan Kim Jong Un sendiri tidak terlalu baik sejak 2017. Pasalnya, keduanya kerap saling hina, dan mengancam apalagi setelah Korut mengatakan sudah membuat kemajuan besar pada program nuklirnya dan AS merespon dengan sanksi yang ketat.

Namun, pada tahun 2018, hubungan keduanya membaik secara signifikan saat KTT Singapura berlangsung. Saat itu pertama kali seorang presiden AS bertemu dengan pemimpin Korut.

Hubungan baik tersebut berlanjut hingga KTT Vietnam pada Februari 2019. Namun sayangnya masih gagal mencapai kesepakatan. Dikarenakan Korut tak mau menyerah atas pengembangan senjata nuklirnya dan meminta penghapusan sanksi dengan cepat. Meski demikian, hingga kini pembicaraan lanjutan masih terus dilakukan.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts