Kantor berita resmi Korut, KCNA, menyatakan bahwa kebijakan Washington selama ini membuktikan bahwa AS tetap menjadi ancaman jangka panjang bagi Pyongyang dan rakyatnya.
- Luthfiatun Nisa
- Sabtu, 13 Juni 2020 - 17:42 WIB
WowKeren - Korea Utara menilai hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat tidak bermanfaat. Disebutkan bahwa Korut melihat AS mempertahankan kebijakan bermusuhan antarkedua negara. Kondisi itu lantas membuat Korut menilai hanya sedikit manfaat mempertahankan hubungan pribadi antara pemimpin Kim Jong-un dan Presiden AS Donald Trump.
Kantor berita resmi Korut, KCNA, menyatakan bahwa kebijakan Washington membuktikan negara itu tetap menjadi ancaman jangka panjang bagi Pyongyang dan rakyatnya. Menurut Menteri Luar Negeri Ri Son-gwon, Korut akan mengembangkan pasukan militer yang lebih andal untuk menghadapi ancaman tersebut.
Dilansir dari Republika, Trump dan Kim pernah saling melontarkan cacian dan ancaman selama 2017 ketika Korut membuat kemajuan besar dalam program nuklir dan misilnya. AS merespons dengan memimpin upaya internasional untuk memperketat sanksi terhadap negara tersebut.
Hubungan meningkat secara signifikan karena pertemuan di Singapura pada Juni 2018. Momen itu pertama kali seorang Presiden AS bertemu dengan seorang pemimpin Korut, tetapi hasil dari pertemuan itu tidak jelas.
Kemudian pertemuan kedua yang terjadi pada Februari 2019 di Vietnam gagal mencapai kesepakatan. Hal itu terjadi akibat konflik atas permintaan AS agar Korut sepenuhnya menyerahkan senjata nuklirnya dan Pyongyang menuntut segera pencabutan sanksi.
Ri Son-gwon mengatakan, dalam hal retropeksi, pemerintahan Trump tampaknya hanya berfokus pada mencetak poin-poin politik sambil berusaha untuk mengisolasi dan mencekik Korut. "Kami tidak akan pernah lagi memberikan paket lain kepada eksekutif AS untuk digunakan untuk pencapaian tanpa menerima pengembalian. Tidak ada yang lebih munafik daripada janji kosong," katanya.
Terkait tudingan Ri Son-gwon ini, Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih belum memberikan komentar apapun. Namun sehari sebelumnya, juru bicara Departemen Luar Negeri mengatakan kepada kantor berita Korea Selatan Yonhap, bahwa AS tetap berkomitmen untuk berdialog dengan Korut dan terbuka untuk pendekatan yang fleksibel untuk mencapai kesepakatan yang seimbang.
Di sisi lain, belakangan ini ketegangan antara Korut dan AS memang kembali terjadi setelah Washington dinilai mencampuri hubungan antar-Korea. Bahkan, Kementerian Luar Negeri Korut mengancam akan mengintervensi pemilihan Presiden AS jika negeri Paman Sam tersebut masih ikut campur.
"Jika AS menyentuh urusan orang lain dengan pernyataan ceroboh, yang jauh dari urusan mereka di saat situasi politik negara itu tengah dalam kebingungan, maka ada hal yang tidak menyenangkan dan sulit harus dihadapi," ujar Kwon Jong Gun, direktur jenderal untuk urusan AS di Kementerian Luar Negeri Korut dalam sebuah pernyataan pada kantor berita KCNA.
Pernyataan itu muncul setelah Departemen Luar Negeri AS mengatakan, pihaknya kecewa karena Korut menangguhkan hotline komunikasi dengan Korea Selatan pada Selasa (9/6) lalu. "Akan lebih baik tidak hanya untuk kepentingan AS, tetapi juga untuk memudahkan pemilihan presiden mendatang," ujar Kwon.
(wk/luth)