AS Resmi Hentikan Izin Edar Obat Malaria Hidroksiklorokuin untuk Pengobatan COVID-19
Health

Menurut Badan Pengawas Obat AS (FDA), uji klinis skala massal menyebut ada kasus gagal jantung dan dampak kesehatan serius lainnya setelah mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine.

WowKeren - Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) resmi menghentikan izin edar dan penggunaan obat malaria hydroxychloroquine dan chloroquine untuk mengobati pasien virus corona (COVID-19). Dalam sebuah pernyataan resmi, FDA mengatakan izin darurat dicabut karena kedua obat itu dianggap tidak menunjukkan efektivitas bagi pasien yang dirawat karena terinfeksi virus corona di AS.

FDA bahkan menuliskan bahwa muncul laporan bahwa dalam uji klinis skala massal ada kasus gagal jantung dan dampak kesehatan serius lainnya setelah mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine. Data terbaru dari uji coba acak yang dilakukan terhadap pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit di AS menunjukkan penggunaan hydroxychloroquine tidak menunjukkan hasil dalam mengurangi kemungkinan kematian maupun mempercepat proses penyembuhan.

"Sementara uji coba klinis masih terus berlangsung untuk mengevaluasi potensi keunggulan obat-obatan ini dalam pencegahan COVID-19, kami menyatakan izin pakai daruratnya sudah tidak layak diberikan. Keputusan ini diambil melalui pemantauan ketat oleh para ilmuwan di Pusat Riset dan Evaluasi Obat," kata Patrizia Cavazzoni, pejabat pelaksana direktur pusat evaluasi obat FDA dalam situs resminya.

Meski demikian, kedua jenis obat ini tetap bisa dibeli di AS. Hydroxychloroquine dan chloroquine sejak lama diresepkan untuk mengobati pasien yang menderita penyakit imunitas seperti malaria dan lupus.


Sebelumnya, pada 25 Mei lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga lebih dulu secara resmi menghentikan pengujian terhadap hydrxychloroquine sebagai pengobatan virus corona karena kekhawatiran atas keselamatan pasien.

Penghentian itu terjadi setelah studi medis pada bulan Mei mengatakan obat itu dapat meningkatkan risiko pasien meninggal akibat COVID-19. Pada pekan lalu, kajian yang dimuat jurnal ilmiah, Lancet, menyebutkan penanganan para pasien COVID-19 dengan obat antimalaria hydroxychloroquine sama sekali tidak ada manfaatnya. Kemudian WHO mengatakan hydroxychloroquine akan dihapus dari uji coba tersebut sambil menunggu penilaian terhadap aspek keamanan.

Hydroxychloroquine diklaim aman bagi pasien malaria, serta pasien lupus atau arthritis, namun tidak ada uji klinis yang merekomendasikan hidroksiklorokuin bagi pasien yang terjangkit virus corona. Kajian terbaru melibatkan 96 ribu pasien COVID-19. Dari jumlah itu, hampir 15 ribu di antara mereka diberikan hydroxychloroquine, baik sebagai obat tunggal maupun dengan didampingi antibiotik.

Hasil kajian menyebutkan bahwa para pasien yang meninggal di rumah sakit dan mengalami komplikasi detak jantung adalah mereka yang mengonsumsi hydroxychloroquine. Tingkat kematian antara kelompok pasien COVID-19 sebagai berikut: hydroxychloroquine 18%; chloroquine 16,4%, pasien-pasien yang tidak mengonsumsi hydroxychloroquine dan chloroquine 9%.

Pemakaian hydroxychloroquine dan chloroquine juga tak lepas dari kontroversi, terlebih setelah Presiden AS Donald Trump mendesak penggunaannya secara massal untuk pasien COVID-19 pada Maret lalu. Trump bahkan mengklaim jika ia secara rutin mengonsumsi hydroxychloroquine untuk terhindari dari virus corona.

(wk/luth)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait