Peneliti menemukan bahwa pasien COVID-19 bergolongan darah A berisiko tinggi mengalami gagal pernapasan. Sedangkan pasien bergolongan darah O nampak bersifat protektif.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 17 Juni 2020 - 15:17 WIB
WowKeren - Sebuah penelitian Studi Asosiasi Genom (Genome-wide Association Studies/GWAS) menunjukkan bahwa lokus pasien positif COVID-19 pada umumnya mengkodekan golongan darah A dan O serta kluster multi-gen pada kromosom manusia ketiga. Hasil penelitian itu didasarkan pada sampel yang diambil dari 1.610 pasien COVID-19 yang masih di rawat di rumah sakit dan 2.205 pasien yang dinyatakan sembuh dan telah dipublikasikan di situs The Preprint Server for Health Sciences.
Peneliti juga menemukan bahwa pasien COVID-19 bergolongan darah A berisiko tinggi mengalami gagal pernapasan. Sedangkan pasien bergolongan darah O nampak bersifat protektif.
Lembaga Biologi Molekuler Eijkman lantas menanggapi penelitian tentang pengaruh golongan darah pada tingkat infeksi COVID-19. Menurut Wakil Kepala Eijkman, Herawati Sudoyo, hasil penelitian tersebut masih sebatas spekulasi dan memerlukan pengujian lebih lanjut. "Ini spekulasi dan harus diuji lanjut," tutur Herawati dilansir CNN Indonesia pada Rabu (17/6).
Herawati sendiri membenarkan bahwa sudah ada publikasi percepatan mengenai hubungan golongan darah dengan infeksi COVID-19. Adapun publikasi tersebut dibuat oleh peneliti Jiao Zhao dkk dan bisa diakses di medRxiv sejak bulan Maret 2020. Namun, ia menyampaikan bahwa hubungan golongan darah dengan COVID-19 merupakan studi awal dan publikasi tersebut tak dapat digunakan sebagai patokan.
"Tetapi tentunya akan menarik untuk diteliti lebih lanjut apa memang ada kerentanan terhadap COVID-19," ujar Herawati. Ia lantas menjelaskan tentang spekulasi golongan darah O berisiko lebih rendah dalam publikasi tersebut.
"Spekulasinya adalah karena golongan darah O memiliki antibodi anti A yang akan menghambat perlekatan SARS-CoV protein expressing cells ke ACE2 expressing cell (manusia)," jelas Herawati. Terkait studi yang menggunakan pendekatan genomik dan teknik GWAS, Herawati menyebut studi tersebut biasa dilakukan peneliti bidang medik untuk melihat asosiasi antara SNP (Single Nucleotide Polymorphism) dengan parameter klinik.
"Ini studi kolaborasi yang cukup besar dengan melibatkan lebih dari 50 institusi dan sekitar 100 peneliti. Jadi yang dilihat itu 712.189 varian," jelasnya. "Jadi jelas ya ini studi genomik."
Meski demikian, Herawati mengaku bahwa proses pembuatan vaksin COVID-19 tidak akan terpengaruh oleh kedua publikasi tersebut. "Temuan ini jelas tidak mempengaruhi proses pembuatan vaksin," pungkas Herawati.
(wk/Bert)