Penderita kanker umumnya memiliki kondisi tubuh yang cukup lemah. Benarkah pasien kanker berisiko tinggi terinfeksi virus corona (COVID-19)? Para peneliti Tiongkok pun melakukan pengujian akan hal ini.
- Nidya Putri
- Jumat, 19 Juni 2020 - 15:53 WIB
WowKeren - Adanya pandemi corona (COVID-19) membuat penderita kanker kesulitan mendapatkan layanan kesehatan. Pasalnya, saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan para pasien kanker enggan untuk mendatangi rumah sakit lantaran takut terinfeksi SARS-CoV-2.
Pada saat tersebut, tidak diketahui apakah bagaimana ketahan tubuh dan kondisi kesehatan penderita kanker. Lalu apakah penderita kanker berisiko tinggi terinfeksi virus corona?
Hingga saat ini, belum terdapat bukti kuat bahwa kanker meningkatkan risiko terinfeksi COVID-19. Sebuah penelitian di Tiongkok menunjukkan sebanyak 18 pasien kanker (1% dari 1590 orang yang diteliti) memiliki risiko lebih tinggi mengalami perburukan penyakit dari COVID-19 yang ditunjukkan dengan peningkatan kebutuhan dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dan penggunaan mesin bantu nafas atau ventilator.
Perlu dicatat bahwa jumlah pasien kanker dalam riset tersebut sangat sedikit (1% dari 1590 sampel) dan hanya 4 dari 18 pasien kanker tersebut yang sedang dalam pengobatan kanker. Selain itu, rata-rata usia yang berbeda pada pasien dengan kanker versus pasien non-kanker (63,1 vs. 48,7 tahun) seolah-olah memberikan kesan bahwa pasien mengalami komplikasi akibat umur yang telah diketahui berperan dalam meningkatkan risiko terinfeksi penyakit COVID-19 dan bukan akibat kanker yang diderita.
Diketahui, 12 dari 18 pasien tersebut tidak memiliki riwayat terapi kanker dalam 1 tahun terakhir dan mereka memiliki riwayat merokok yang lebih lama dibandingkan dengan pasien non-kanker dalam penelitian tersebut. Lalu bagaimana dengan pasien kanker yang sedang atau baru-baru ini mendapat terapi kanker, seperti kemoterapi, yang mengganggu sistem imun tubuh?
Hingga saat tulisan ini dibuat, belum terdapat bukti ilmiah terkait hal ini. Dengan demikian, hubungan antara risiko COVID-19 pada penderita dan survivor kanker masih belum jelas. Selain itu, risiko tersebut sangat dipengaruhi oleh umur, tipe kanker, jenis terapi yang diterima, rentang waktu setelah terapi terakhir, serta penyakit penyerta lain yang dimiliki.
Sementara itu, di Indonesia sendiri memiliki angka pasien kanker yang cukup besar. Pada tahun 2018 tercatat 136,2 orang dari 100.000 penduduk di Indonesia menderita kanker. Yang mengkhawatirkan, menurut data Kementerian Kesehatan , prevalensi kanker di Indonesia naik dari 1,4 per 1000 penduduk (tahun 2013) menjadi 1,8 per 1000 penduduk (2018).
(wk/nidy)