Inggris Lakukan Uji Coba Vaksin Corona Pada Babi, Begini Hasilnya
Dunia

Sejumlah peneliti dari Inggris baru saja melakukan uji coba vaksin virus corona (COVID-19) yang tengah dikembangkan terhadap babi. Hasilnya membawa angin segar.

WowKeren - Sejumlah negara terus berlomba-lomba melakukan berbagai penelitian untuk menemukan vaksin virus corona (COVID-19). Salah satunya adalah peneliti dari Pirbright Institute yang bekerja sama dengan Oxford University dalam mengembangkan pasien virus corona.

Peneliti baru saja melakukan uji coba vaksin virus corona kepada babi. Hasilnya, mereka menemukan jika vaksin tersebut telah menghasilkan respons antibodi pada babi.

Vaksin yang dikembangkan Institut yang berbasis di Surrey, Inggris ini bernama ChAdOx1 nCoV-19 (AZD1222). Sebelumnya, vaksin ini sempat di uji coba pada monyet. Keenam monyet yang diberikan vaksin ini berhasil melawan pneumonia yang disebabkan oleh virus corona.

Dalam penelitian terbaru, terbukti jika dua kali dosis vaksin ChAdOx1 nCoV-19 dapat meningkatkan antibodi penawar yang ditandai. Bahkan, dua dosis vaksin juga sanggup mengikat virus dan memblokir infeksi.

”Vaksin ini dibuat dari virus ChAdOx1,” kata para peneliti Oxford, seperti dilansir dari Fox News, Selasa (23/6). “Versi lemahnya flu biasa yang diubah secara genetis sehingga tidak mungkin untuk ditiru pada manusia.”


Meski demikian, Pirbright Institute menegaskan jika pihaknya belum mengetahui secara pasti bagaimana respons manusia jika mendapatkan vaksin ini. Uji coba vaksin langsung pada manusia masih sedang disiapkan.

Peneliti mengungkap jika vaksin yang telah diberikan pada babi ini telah menunjukkan perkembangan yang positif. Terlebih, mengenai temuan penting dari peneliti jika dua kali dosis vaksin mampu menciptakan kekebalan tubuh yang lebih tinggi.

”Hasil ini terlihat menggembirakan, bahwa pemberian dua suntikan dengan vaksin yang sama meningkatkan respons antibodi yang bisa menetralkan virus,” ujar Direktur Pirbright Institute, Bryan Charleston. “Tapi respon pada manusia yang penting.”

Lebih lanjut peneliti menjelaskan mengenai babi yang menjadi model uji coba. Menurut Charleston, babi selama ini kerap menjadi model uji coba vaksin manusia karena kesamaan fisiologis yang lebih besar (seperti berat badan dan tingkat metabolisme) dibandingkan dengan hewan lain.

Sementara itu, sebagian besar peneliti belum mengetahui tepatnya berapa lama antibodi dapat menawarkan kekebalan terhadap COVID-19. Tim peneliti University of London di St. George's mengatakan penetral-patogen dapat tetap stabil dalam darah orang yang terinfeksi selama dua bulan setelah diagnosis.

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait