Amerika Serikat hingga kini masih berjuang melawan pandemi virus corona. Belum juga berhasil menyelesaikan 'pertarungan' ini, 7 negara bagian AS harus diserang wabah lain yaitu kelinci ebola.
- Nidya Putri
- Rabu, 01 Juli 2020 - 15:54 WIB
WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) di Amerika Serikat (AS) hingga saat ini masih belum usai. Apalagi dengan naiknya jumlah kasus baru dan kematian akibat COVID-19 tiap harinya.
Sayangnya, Negeri Paman Sam kali ini kembali diserang oleh wabah lain yang menyerang populasi kelinci. Diketahui, tujuh negara bagian di barat daya AS, ribuan kelinci domestik mati akibat wabah penyakit langka yang disebabkan oleh rabbit hemorrhagic disease virus (RHDV2).
“Kami menyebutnya sebagai ‘kelinci ebola’,” ujar Dr. Amanda Jones, dokter hewan dari Killeen, Texas, kepada The Cut. Meski penyakit ini diberi nama "kelinci ebola", namun tidak ada hubungannya dengan penyakit ebola yang mewabah dan menyerang manusia di Afrika.
Namun menurut Jones, penyakit ebola di Afrika dan RHDV2 di AS punya cara yang sama dalam membunuh korbannya, yakni menyebabkan pendarahan hebat, kegagalan organ, dan kematian. Virus kelinci ebola menyebabkan lesi pada organ dan jaringan kelinci sehingga terjadi pendarahan internal yang berujung pada kematian.
Tak sedikit kelinci yang jadi korban tidak menunjukkan gejala hingga kematian tiba. Kelinci biasanya tiba-tiba terkapar, mati dengan kondisi mengeluarkan darah di hidungnya.
Sejak April 2020 lalu, Departemen Pertanian AS (USDA) telah mengkonfirmasi kasus RHDV2 di beberapa negara bagian, seperti Arizona, California, Colorado, Nevada, New Mexico, Utah, dan Texas. Selain itu, negara tetangga AS seperti Meksiko juga turut terdampak virus ini.
Wabah RHDV2 sendiri telah 4 kali memukul Negeri Paman Sam. Virus ini sendiri awalnya muncul di Tiongkok sekitar 35 tahun lalu, kemudian menyebar ke seluruh benua.
Untuk pertama kalinya, wabah RHDV2 menyebar di antara hewan peliharaan. Adapun jenis kelinci yang terinfeksi adalah kelinci ekor kapas (Cottontail), kelinci sepatu salju, dan terwelu (Jackrabbits).
“Fakta bahwa virus ini menginfeksi kelinci di banyak negara adalah alasan kenapa wabah ini sangat memprihatinkan,” kata Direktur Eksekutif American Breeders Association, Eric Stewart dilansir VIN News. "Dan kemudian virus itu menyebar pada populasi kelinci liar, yang tentunya semakin menambah kekhawatiran."
Pada 2018 lalu, virus RHDV2 muncul dan menyebar di antara kelinci peliharaan di Ohio. Wabah terpisah kemudian terjadi di negara bagian Washington. Pada akhir Februari, puluhan kelinci di Center for Avian and Exotic Medicine di Manhattan mengalami kejang dan mati dalam hitungan menit.
Sebulan kemudian, wabah muncul di Arizona dan New Mexico. Para ilmuwan memastikan wabah yang terjadi di dua negara itu tidak terkait dengan kejadian sebelumnya. “Kami masih tidak tahu dari mana asalnya,” ujar Ralph Zimmerman, dokter hewan negara bagian New Mexico. “Virus ini seperti bola salju dan bergerak seperti orang gila.”
Hampir 500 hewan di New Mexico terinfeksi antara Maret dan Juni. “Kami memiliki satu jantan dengan 200 populasi kelinci, dan mereka semua mati antara Jumat sore dan Minggu malam,” paparnya.
Pejabat Meksiko lantas membuat peraturan baru yang menyebut, jika satu kelinci di penangkaran terinfeksi penyakit RHDV2, maka kelinci yang tersisa di penangkaran tersebut harus dimusnahkan. Aturan ini menyebabkan 600 kelinci lain dibunuh dalam upaya untuk menghentikan penyebaran virus.
Virus ini sendiri membunuh korbannya dengan sangat cepat. Ketika hewan terinfeksi, virus akan menyebar ke seluruh tubuh hanya dalam tiga hari. Beberapa kelinci mulai kehilangan nafsu makan dan energi, kendati yang lain tidak menunjukkan gejala hingga mereka mati.
Organ-organ kelinci, termasuk hati dan limpa akan rusak dan darah berhenti mengalir dengan benar. RHDV2 dapat menyebar dengan mudah melalui darah, urin, dan feses.
RHDV2 senditi dapat hidup lebih dari tiga bulan pada suhu kamar tertentu. Mereka mati dalam suhu 50 derajat Celcius dalam waktu satu jam, tapi tidak dengan pada suhu beku. Kendati begitu, virus ini dipastikan tidak dapat menginfeksi manusia atau jenis hewan lain.
(wk/nidy)