COVID-19 Disebut Bisa Sebabkan Kerusakan Otak pada Anak
AFP/Getty Images
Dunia

Sebuah studi menemukan komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi pada anak-anak yang mengidap kondisi serius terkait COVID-19 yang dikenal dengan sebutan MIS-C.

WowKeren - Sejumlah studi menyebut jika COVID-19 mampu meninggalkan efek jangka panjang bagi penyintasnya. Salah satunya studi yang dipublikasikan di JAMA Neurology awal pekan ini.

Studi tersebut menemukan komplikasi jangka panjang yang dapat terjadi pada anak-anak yang mengidap kondisi serius terkait COVID-19. Kondisi itu dikenal dengan sebutan multi-system inflammatory syndrome pada anak-anak (MIS-C).

Kondisi ini menyebabkan timbulnya sejumlah gejala pada anak-anak, mulai dari sakit kepala, kelemahan otot, dan tanda-tanda kerusakan otak. Kondisi ini termasuk langka dan terdapat kemungkinan jika MIS-C dapat mengancam jiwa dalam beberapa kasus selama anak mengidap COVID-19. Begitu pula dengan mereka yang merupakan penyintas.

Gejala ini dapat memperburuk kondisi pasien. Tak hanya demam dan masalah pernapasan, namun juga ruam kulit, penurunan tekanan darah yang signifikan hingga dapat menghambat pasokan oksigen bahkan berpotensi menyebabkan kematian.


Penyebab munculnya gejala ini diyakini bermula dari sistem imunitas tubuh yang lemah dalam melawan virus. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 27 anak yang memiliki gejala yang konsisten dengan MIS-C, empat di antaranya juga memiliki gejala neurologis.

Sedangkan sebagian besar anak-anak tidak mengalami gejala virus corona yang serius. Dibanding orang dewasa, mereka memiliki kemungkinan lebih kecil menunjukkan tanda-tanda mirip flu terkait COVID-19.

Tes menunjukkan tanda-tanda kerusakan otak pada bagian corpus callosum. Bagian ini berfungsi membantu kedua sisi organ berkomunikasi satu sama lain. Meski demikian, tidak ada anak yang melaporkan memiliki gejala gangguan pernapasan meskipun mereka semua dinyatakan positif COVID-19 atau memiliki antibodi terhadapnya.

"Anak-anak dengan COVID-19 dapat mengalami gejala neurologis baru," kata para peneliti seperti dilansir dari Daily Star, Senin (6/7). "Yang melibatkan sistem saraf pusat dan perifer."

Empat orang anak yang dilaporkan mengalami kerusakan otak, mereka memerlukan perawatan intensif dan juga harus dibantu dengan ventilator. Sementara dua anak lain yang mengidap penyakit tersebut pulih sepenuhnya.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait