Usai Flu Babi Jenis Baru, Tiongkok Kini Keluarkan Peringatan Wabah Bubonik
Dunia

Otoritas Kesehatan Tiongkok mengeluarkan peringatan waspada akan terkait wabah bubonik usai terkonfirmasinya kasus baru di kota Bayannur di Urad Middle Banner, Mongolia Dalam, pada Sabtu (4/7) lalu.

WowKeren - Beberapa waktu lalu, peneliti menemukan jenis varian baru dari virus flu babi yang disebut-sebut berpotensi jadi pandemi baru. Namun, menurut hasil penelitian terbaru Pusat Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Menular Tiongkok (CCDC) menetapkan jika virus ini tidak akan menjadi pandemi baru.

Kekinian, Otoritas Kesehatan Tiongkok mengeluarkan peringatan waspada wabah bubonik usai satu kasusnya terkonfirmasi di wilayah otonom Mongolia Dalam. Menurut laporan dari media lokal, pasien yang diduga terinfeksi bubonik itu sudah dikarantina. Pasien yang merupakan penggembala tersebut telah berada dalam kondisi stabil.

Sekedar informasi, wabah bubonik atau yang dikenal sebagai Black Death tersebut kerap diasosiasikan dengan penyakit pes. Wabah yang diakibatkan infeksi bakteri tersebut cenderung mematikan, namun dapat diobati dengan antibiotik yang tersedia saat ini.

Dikutip dari BBC, Otoritas Tiongkok kini mengeluarkan peringatan level 3 dalam bidang penyakit menular. Level tersebut merupakan dua terbawah dalam sistem kewabahan di Tiongkok.

Kasus pertama wabah bubonik di Tongkok muncul di sebuah rumah sakit di kota Bayannur di Urad Middle Banner, Mongolia Dalam, pada Sabtu (4/7) lalu. Otoritas Tiongkok tidak menyebutkan bagaimana pengembala tersebut bisa terinfeksi wabah bubonik.


Kasus wabah bubonik secara berkala dilaporkan dari berbagai negara di dunia. Madagaskar pernah mengonfirmasi lebih dari 300 kasus dalam sebuah wabah pada 2017.

Mei tahun lalu, dua orang di negara Mongolia meninggal akibat wabah tersebut. Keduanya terinfeksi wabah bubonik usai memakan daging marmut mentah.

Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Ulaanbaatar, ibu kota Mongolia, mengatakan kepada BBC bahwa daging dan ginjal marmut mentah dianggap masyarakat lokal sebagai obat tradisional. Marmut sendiri dikenal sebagai salah satu pembawa bakteri, dan sering diasosiasikan dengan wabah bubonik.

Wabah ini dikenal lewat ciri-ciri pembengkakan di kelenjar getah bening, namun sulit diidentifikasi di fase awal. Biasanya gejala baru muncul tiga hingga tujuh hari usai terinfeksi.

Meski wabah bubonik patut diwaspadai, sejumlah pakar menilai penyakit tersebut tidak akan sampai memicu epidemi atau pandemi. "Tidak seperti di abad ke-14, saat ini kita sudah memahami penularan penyakit ini," kata Dr Shanti Kappagoda, seorang ahli penyakit menular dari Stanford Health Care. "Kita sudah tahu cara mencegahnya. Kita juga sudah mampu mengobati pasien terinfeksi dengan antibiotik yang efektif."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts