Akhirnya Akui Corona Bisa Menular Lewat Udara, Begini Pedoman Terbaru WHO
Shutterstock/DimaBerlin
Dunia
Pandemi Virus Corona

WHO memperbarui pedoman kesehatan pandemi virus Corona usai mengakui mikroba tersebut bisa ditularkan lewat udara. Metode transmisi baru ini diakui pasca ratusan peneliti menyurati WHO.

WowKeren - Belum lama ini ratusan peneliti melayangkan surat terbuka ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) perihal pola penyebaran wabah virus Corona. Mereka meyakini virus penyebab infeksi saluran pernapasan ini menular melalui media udara alih-alih droplet seperti yang selama ini disampaikan ke publik.

Dan akhirnya WHO mengakui perihal potensi penularan lewat udara ini. Alhasil pada Kamis (9/7) kemarin WHO memperbarui pedoman kesehatan soal wabah COVID-19.

Secara garis besar, sejatinya tak banyak yang berubah dari pedoman ini. Hanya saja WHO memasukkan potensi transmisi lewat udara yakni rute aerosol.

Yang pertama, WHO memasukkan udara ke dalam bagian dari mode transmisi atau penularan virus Corona. Beberapa mode transmisi itu seperti droplet, udara, formite, atau permukaan yang terkontaminasi virus.

Untuk transmisi melalui udara, WHO mendeskripsikan penularan terjadi lewat aerosol mikroskopis. WHO menjelaskan ada potensi seseorang yang menghirup aerosol mengandung virus dapat terinfeksi, meski WHO menyebut masih diperlukan penelitian lebih lanjut soal ini.


"Hingga saat ini, transmisi SARS-CoV-2 dengan jenis rute aerosol ini belum ditunjukkan secara jelas," tulis WHO dalam pedomannya. "Butuh lebih banyak penelitian terkait hal ini, mengingat implikasi yang mungkin dari rute penularan seperti itu."

Transmisi aerosol ini pun lebih mungkin terjadi di ruangan tertutup dengan ventilasi yang buruk. Berdasarkan penelitian yang tercantum dalam pedoman WHO, droplet yang keluar saat bernapas juga menghasilkan aerosol mikroskopis, baik saat pernapasan normal maupun bicara.

Namun seberapa banyak aerosol mengandung virus yang "dihasilkan" oleh seorang individu terjangkit COVID-19 masih dikaji lebih dalam. Selain itu seberapa lama aerosol bertahan di udara pun masih simpang-siur.

WHO pun mendeskripsikan beberapa tempat yang berisiko tinggi menjadi tempat penularan. Seperti restoran, klub malam, tempat ibadah, tempat kerja yang banyak orang teriak atau berbicara, tempat latihan paduan suara, sampai kelas kebugaran. Namun tentu saja penularan bisa dicegah bila mematuhi protokol kesehatan.

Selain itu, WHO juga mengimbau masyarakat menghindari tempat tertutup terutama dengan ventilasi yang buruk. Mereka juga meminta masyarakat untuk aktif menggunakan masker dan face shield.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts