Presiden Joko Widodo masih menyimpan keyakinan bahwa wabah virus Corona di Indonesia masih terkendali, meski hingga Rabu (15/7) kemarin tercatat ada 80 ribu lebih kasus positif COVID-19.
- Elvariza Opita
- Kamis, 16 Juli 2020 - 07:56 WIB
WowKeren - Indonesia sudah mencatatkan 80 ribu lebih kasus positif COVID-19 hingga Rabu (15/7) kemarin. Tentu angka itu tak boleh dipandang remeh, namun Presiden Joko Widodo rupanya tetap bisa menyikapi krisis yang ada dengan pandangan positif.
Bahkan Jokowi menilai wabah virus Corona di Indonesia masih terkendali bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya yang besar. Sang kepala negara kemudian membandingkan situasi tersebut dengan negara berpenduduk banyak seperti Amerika Serikat dan Brasil yang kekinian sedang berjuang mengatasi krisis yang jauh lebih pelik.
"Negara kita ini masuk lima besar penduduk terbanyak, tetapi kalau dilihat 10 negara dengan kasus tertinggi, kita tidak masuk di dalamnya," ujar Jokowi di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/7). "Tadi Amerika (Serikat) 3,4 (juta), Brasil 1,8 (juta), India 906 ribu, Rusia 739 ribu, Peru 326 ribu."
"Artinya, kita berada pada posisi yang masih bisa kita kendalikan," imbuh mantan Gubernur DKI Jakarta itu, seperti dilansir dari situs resmi Sekretariat Kabinet, Kamis (16/7). "Oleh sebab itu, jangan sampai kita lepas kendali."
Hal ini Jokowi sampaikan dalam pembukaan agenda pengarahan kepada seluruh gubernur soal percepatan penyerapan APBD. Pada kesempatan itu, Jokowi juga mendorong supaya para gubernur ini menggunakan segala daya upaya untuk bisa mengendalikan angka penularan COVID-19 sekaligus menggerakkan roda perekonomian dengan berhati-hati.
Untuk bisa mencapai target tersebut, mantan Wali Kota Solo ini meminta para gubernur untuk tak lagi bekerja dengan cara yang biasa-biasa saja. Jokowi mendorong setiap kepala daerah agar bekerja dengan berbagai terobosan supaya bisa menyelamatkan masyarakat dari krisis yang saat ini sedang melanda.
"Enggak bisa kita dalam situasi seperti ini kita kerja normal-normal. Dalam situasi seperti ini kita kerja biasa-biasa, enggak bisa," tegas Jokowi. "Percaya saya, enggak bisa."
"Semuanya harus ganti channel, semuanya! Enggak bisa kita normal-normal, channel-nya harus ganti semua," imbuh Jokowi. "Dari channel ordinary, pindah channel ke extraordinary."
(wk/elva)