Doni Monardo mengaku menyayangkan adanya masyarakat yang menganggap wabah yang terjadi sebagai konspirasi semata, padahal saat ini sudah terlihat seberapa kejamnya penyakit itu.
- Elvariza Opita
- Jumat, 17 Juli 2020 - 08:44 WIB
WowKeren - Wabah virus Corona turut diwarnai dengan banyaknya teori-teori konspirasi yang seolah menyangkal kekejaman penyakit tersebut. Tak jarang teori konspirasi yang beredar membuat warga jadi tak percaya COVID-19 benar-benar ada, bahkan berimplikasi pada penolakan melakukan pemeriksaan.
Fenomena itu pun turut ditanggapi oleh Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Letjen TNI Doni Monardo. Doni pun dengan tegas meminta masyarakat untuk berhenti berpikir aneh-aneh soal COVID-19, apalagi menganggapnya sebagai rekayasa dan konspirasi semata.
"COVID-19 bukan rekayasa, COVID-19 bukan konspirasi," tegas Doni saat mengikuti Rapat Koordinasi dengan Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur, Kamis (16/7). "COVID-19 menjadi mesin pembunuh, ibaratnya COVID-19 ini adalah malaikat pencabut nyawa."
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu mengaku masih mendapati masyarakat dengan pola pikir demikian dan tentu saja tak boleh dibiarkan. Sebab saat ini virus Corona dikonfirmasi sudah menewaskan hingga setengah juta jiwa di dunia.
Pemahaman itu jelas membuat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap upaya penanganan oleh pemerintah menjadi menurun. Hal ini akan berdampak terhadap tingkat kepedulian dan kedisiplinan warga, yang tentu saja dapat menjadi ancaman terhadap peningkatan kasus COVID-19.
Oleh karena itu ia mendorong setiap elemen otoritas terkait untuk memberikan pemahaman dan narasi yang utuh soal bahaya COVID-19. Termasuk diantaranya di Jatim yang saat ini menjadi pusat penyebaran wabah, meski belakangan seolah "disusul" oleh provinsi-provinsi lain seperti DKI Jakarta dan Jawa Tengah.
Lebih lanjut, COVID-19 bukanlah pandemi yang hanya berdampak terhadap sektor kesehatan tetapi juga ekonomi dan lapangan pekerjaan. Bahkan tercatat ada 1,7 juta orang yang kehilangan pekerjaannya dan tentu menjadi masalah baru bagi Indonesia. "Kalau ditotal tidak kurang dari 3 juta orang, setelah pemerintah memutuskan untuk mengeluarkan Keppres tentang Kedaruratan Kesehatan," terang Doni, dilansir dari Kumparan, Jumat (17/7).
Pada kesempatan yang sama Doni juga menyayangkan penilaian Indonesia sebagai salah satu negara dengan penanganan COVID-19 terburuk. Ia menilai Indonesia dengan kondisi geografis yang begitu beragam sulit untuk dibandingkan dengan negara-negara lain. Bahkan ia ikut menyinggung keseriusan pemerintah dalam menangani Corona, sampai Gugus Tugas terpaksa tidur di kantor selama 3 bulan.
(wk/elva)