Sastrawan Sapardi Djoko Damono Tutup Usia Hingga Netizen Berduka
Instagram/damonosapardi
Selebriti

Sejumlah tokoh dan publik figur Tanah Air langsung mengucapkan bela sungkawa atas kepergian Pak Sapardi. Nama Pak Sapardi pun menjadi trending di lini masa Twitter.

WowKeren - Sastrawan Sapardi Djoko Damono mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (19/7) sekitar pukul 09.17 WIB. Mendiang meninggal di usianya yang ke-80.

Dilansir CNN Indonesia, almarhum meninggal dunia di Rumah Sakit Eka BSD. Sebelumnya, mendiang Sapardi dirawat lantaran menurunnya fungsi organ tubuh.

"Bapak masih di ICU karena memang kondisinya perlu dimonitor," ujar Sonya Sondakh, selaku kerabat Sapardi. "[Penyebabnya] karena usia, tentu fungsi organ menurun dan ada infeksi berat."

Sejumlah tokoh dan publik figur Tanah Air pun mengucapkan bela sungkawa. Sebut saja Maudy Koesnaedi dan Sujiwo Tejo. Nama Pak Sapardi pun menjadi trending di lini masa Twitter.


"Selamat Jalan Pak Sapardi Djoko Damono.. Terima kasih sudah menjadi guru, mengajari banyak hal melalui karyamu," kicau Maudy. "Karya2mu menemani banyak waktu ku.. Selamat istirahat Pak.. tenang damai disana... Doaku mengiringi."

"Kutuang Bubur Bulan Sapar ke dalam Hujan Bulan Juni, agar Saparku menjadi Sapardi, Sapar kita semua," kicau Sujiwo. "Mas Sapardi.. met jalan .. sampai jumpa #utangRasa"

Sapardi lahir di Surakarta, 20 Maret 1940. Beliau sering dipanggil dengan singkatan namanya, SDD.

Beberapa karya sastra ternama lahir dari Sapardi. Diantaranya adalah "Hujan Bulan Juni", "Aku Ingin. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana", "Hatiku Selembar Daun", "Yang Fana Adalah Waktu." Selamat jalan, Pak Sapardi...

(wk/diah)

You can share this post!