Kabar pembelian jet tempur ini ramai diperbincangkan usai Prabowo berkirim surat kepada Menteri Pertahanan Austria, Klaudia Tanner, soal tawaran untuk membeli 15 jet tempur Eurofighter Typhoon bekas pakai milik Austria.
- Bertilia Puteri
- Selasa, 28 Juli 2020 - 11:30 WIB
WowKeren - Menteri Pertahanan Prabowo Subianto berminat untuk membeli jet tempur Eurofighter Typhoon milik Angkatan Udara Austria. Kabar pembelian jet tempur ini ramai diperbincangkan usai Prabowo berkirim surat kepada Menteri Pertahanan Austria Klaudia Tanner soal tawaran untuk membeli 15 jet tempur Eurofighter Typhoon bekas pakai milik Austria.
Wacana pembelian jet tempur bekas Austria ini lantas menimbulkan pro-kontra. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Diandra Megaputri Mengko, menilai jet tempur Eurofighter Typhoon tersebut berkualitas lebih rendah dari yang sudah dimiliki Indonesia, yaitu Sukhoi seri Su-27 dan Su-30.
"Kenapa membeli pesawat yang kualitas lebih rendah dari yang sudah kita punya," tutur Diandra dalam diskusi pada Senin (27/7). Menurut Diandra, Eurofighter Typhoon milik Austria yang ingin dibeli Prabowo tersebut merupakan produksi tahap pertama atau Tranche 1.
Adapun jet tempur ini termasuk generasi 4, seperti Rafale, Sukhoi seri Su-27, Su-30, dan Su-35. Namun, tutur Diandra, pesawat Eurofighter Typhoon tak dilengkapi dengan perangkat penjejak pasif IRST (infra red search and tracking system) seperti pesawat sejenisnya.
Tak hanya itu, Diandra juga menyebut bahwa sejumlah negara kini telah mulai beralih ke pesawat generasi 5. Contohnya adalah pesawat tanpa awak yang digunakan untuk menyerang Komandan Garda Revolusi Iran Mayor Jenderal Qassem Soleimani.
"Itu sudah pakai remote control. Sementara kita mau beli pesawat yang outdated," kata Diandra. "Apa sih di bayangan kepala Kementerian Pertahanan."
Oleh sebab itu, Diandra menyarankan pemerintah untuk membeli pesawat tempur F 35 atau Sukhoi. Meski hanya bisa membeli dengan jumlah yang lebih sedikit, namun tetap digunakan untuk jangka waktu yang lebih panjang dibanding pesawat tempur bekas.
Selain itu, Diandra juga sempat menyinggung soal pengalaman buruk Indoensia ketika membeli jet tempur bekas dari Amerika Serikat (AS). Pesawat F 16 dari AS tersebut sudah mengalami kerusakan mesin dan harus grounded alias dilarang terbang dalam waktu tak sampai setahun.
Sementara itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) mendesak Prabowo untuk membatalkan rencana pembelian 15 jet tempur bekas Austria tersebut. Salah satu alasan ICW mendesak pembatalan tersebut adalah modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang difasilitasi dengan alat bekas. Menurut Koordinator ICW, Adnan Topan Husodo, Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan telah menjadikan Indonesia tidak lagi menjadi pasar alutsista bekas.
(wk/Bert)