Satgas COVID-19 Soroti Kaum Muda yang 'Tak Sengaja' Positif Corona
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menurut anggota Tim Pakar Sosbud Satgas COVID-19, Meutya Hatta, masyarakat harus memahami bahaya virus corona, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain.

WowKeren - Angka kasus positif COVID-19 di Indonesia masih terus mengalami penambahan. Salah satu penyebabnya sejumlah masyarakat yang masih kurang disiplin menerapkan protokol kesehatan.

Menurut anggota Tim Pakar Sosbud Satgas COVID-19, Meutya Hatta, sanksi atau hukuman bukanlah satu-satunya cara untuk merespons masyarakat yang masih mengabaikan protokol kesehatan. Meutya menekankan bahwa masyarakat harus memahami bahaya COVID-19, bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain.

"Hukuman itu kadang-kadang tidak mempan ya. Selain hukuman, yang penting mereka memahami," terang Meutya dalam diskusi virtual BNPB pada Selasa (4/8). "Bukan saja mereka ketularan tapi menularkan. Dan saya banyak mendengar kasus-kasus, ibu atau bapak ketularan dari anaknya."

Meutya pun menyoroti anak- anak muda yang "tak sengaja" tertular COVID-19. Ia yakin bahwa para kaum muda tidak pernah berniat untuk menularkan virus corona ke orang lain.


"Tidak sengaja juga tidak bermaksud jahat, tapi tanpa sengaja mereka menyebabkan orang tuanya tertular," tutur Meutya. "Itu dalam keadaan mereka tidak berdaya dan harus bekerja."

Lebih lanjut, Meutya menyoroti anak-anak muda yang hobi berkumpul alias nongkrong di kafe atau restoran. Ia menilai ada banyak anak muda yang merasa denial, namun tiba-tiba dinyatakan positif corona.

"Terus setelah PSBB dilonggarkan, ada orang muda yang bisa ke kafe dan warung makan karena mereka melepaskan karena sudah tidak lama ketemu. Lupa protokol kesehatan, seperti jauhi kerumunan," ujar Meutya. "Mereka (anak muda) kebanyakan denial dan tahu-tahu kena (corona)."

Selain itu, Meutya juga mencontohkan Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Isdianto yang dinyatakan positif COVID-19 karena tak dapat menghindari kerumunan di acara pelantikan. Oleh sebab itu, Meutya menekankan pentingnya penerapan protokol kesehatan untuk masyarakat.

"Gubernur Kepri juga kena karena bersalaman. Karena semua orang-orang dengan keyakinan tidak bener terus banyak kemudian membuat gelombang jadi berkerumun," pungkas Meutya. "Kita harus menunjukkan peran kita bahwa meyakinkan orang lain untuk taat protokol kesehatan."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts