SMA dan SMK di Surabaya-Sidoarjo Siapkan Skema Belajar Tatap Muka
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Menyusul keputusan Pemkot Surabaya, Dinas Pendidikan Provinsi Jatim akan menyiapkan skema pembelajaran tatap muka untuk jenjang SMA/SMK di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo.

WowKeren - Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya telah berencana untuk membuka kegiatan belajar mengajar di sekolah selama pandemi virus corona (COVID-19). Rencana tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan melakukan simulasi pilot project di sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) Surabaya.

Menyusul Pemkot, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur juga mulai menyiapkan skema pembelajaran tatap muka untuk jenjang SMA/SMK di Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jatim Wilayah Surabaya-Sidoarjo Lutfi Isa Anshori mengatakan jika SMA/SMK di wilayah itu sudah menyiapkan skema pembelajaran tatap muka sesuai kapasitas siswa yang ada.

“Cabang dinas masih menunggu regulasi dan aturan dari Pemerintah Provinsi Jatim. Apabila regulasi sudah keluar dan aturan yang memayungi juga keluar, baru dilaksanakan," kata Lutfi dilansir Antara, Kamis (6/8). "Dalam waktu menunggu ini, sekolah kami minta menyiapkan diri jika sewaktu-waktu ada kebijakan pembelajaran tatap muka."

Persiapan ini sendiri telah dilakukan sejak tahun ajaran baru pada pertengahan Juli 2020. Mulai dari sarana-prasarana seperti tempat cuci tangan harus disesuaikan rasio siswa, dan kantin sekolah harus dikontrol pelayanannya hingga menyediakan masker cadangan. “Kemudian dari sisi siswa juga kami imbau agar yang masuk terlebih dahulu mengantongi izin dari orang tua mereka,” imbuhnya.


Hal yang tak kalah penting lainnya adalah kesiapan psikologis siswa untuk memasuki era adaptasi kebiasaan baru, seperti kegiatan sekolah dan jam belajar tidak sepenuhnya seperti sebelum pandemi. “Bisa jadi setengah jumlah siswa yang masuk, perilaku jaga jarak harus ditaati. Tidak hanya di sekolah, tetapi saat berangkat dan pulang sekolah,” ujarnya.

Terkait kurikulum, sekolah telah diminta untuk memetakan dan memprioritaskan kompetensi dasar tertentu yang esensial. “Kondisi ini menuntut guru agar bisa berinovasi dalam pembelajaran. Kemudian dengan kaitannya dengan jam pembelajaran juga sama," jelasnya. "Durasi kalau normal 45 menit mungkin akan dikurangi sedemikian rupa. Dari sisi kurikulum tidak ada perubahan, tetapi ada skala prioritas."

Sebelum memasuki tahun ajaran baru, sekolah telah mengadakan in house training untuk pembekalan guru dalam satu semester materi apa yang harus disampaikan. Materi yang disampaikan harus sesuai dengan kondisi saat ini.

“Kami belum lakukan simulasi karena belum ada yang masuk sekolah," pungkasnya. "Kalau dibilang siap, kami siap, tinggal tunggu regulasi dari provinsi untuk pembelajaran tatap muka."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts