Penyelidikan internasional memang diserukan oleh para mantan Perdana Menteri dan warga Lebanon untuk mengetahui penyebab ledakan yang menghancurkan sebagian besar wilayah Beirut itu.
- Luthfiatun Nisa
- Jumat, 14 Agustus 2020 - 07:25 WIB
WowKeren - Biro Investigasi Federal (FBI) dikabarkan akan terjun bergabung dalam penyelidikan penyebab ledakan besar di pelabuhan Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus lalu. Kabar ini dibagikan secara langsung oleh Departemen Luar Negeri AS pada Kamis (13/8) waktu setempat.
"FBI akan segera bergabung, atas undangan Lebanon, untuk membantu menjawab penyebab ledakan ini," kata utusan AS untuk PBB, David Hale kepada wartawan.
Sebelumnya, penyelidikan internasional memang diserukan oleh para mantan Perdana Menteri dan warga Lebanon untuk mengetahui penyebab ledakan yang menghancurkan sebagian besar wilayah Beirut tersebut. Meskipun, sebenarnya Presiden Lebanon Michael Aoun menyatakan bahwa insiden ini disebabkan oleh meledaknya 2.750 ton amonium nitrat yang tersimpan di sebuah gudang di dekat pelabuhan selama lebih dari enam tahun.
Bahan tersebut seharusnya dikirim ke Mozambik dari Georgia. Namun kapal tidak diizinkan meninggalkan Beirut karena belum membayar biaya pelabuhan. Kendati demikian, pemerintah Lebanon tak menutup dugaan adanya campur tangan asing dalam insiden tragis ini.
Terlepas dari hal tersebut, Aoun juga menyebut total nilai kerugian akibat ledakan di Pelabuhan Beirut mencapai USD 15 miliar atau setara dengan Rp221 triliun. Nilai taksiran kerugian tersebut diungkapkan Aoun saat dalam perbincangan via telepon dengan Raja Spanyol Felipe, pada Rabu (12/8) waktu setempat. "Perkiraan awal kerugian setelah ledakan di pelabuhan mencapai USD 15 miliar," kata Presiden Michael Aoun.
Ledakan tersebut menewaskan 200 orang dengan ribuan warga yang terluka, menghancurkan area hingga radius 5 kilometer. Disebutkan pula sebanyak 300 ribu penduduk Libanon kehilangan tempat tinggal layak akibat hancur atau rusak berat terdampak ledakan.
Dua ledakan besar yang mengguncang Beirut terjadi di tengah krisis ekonomi dan pandemi COVID-19 yang menghimpit Lebanon. Warga Lebanon turun ke jalan-jalan untuk berunjuk rasa memprotes pemerintah, meskipun Perdana Menteri Hassan Diab dan pemerintahannya telah mengundurkan diri.
Diketahui, Perdana Menteri Hassan Diab resmi mengumumkan pengunduran diri di tengah krisis yang terjadi di Lebanon. Hassan Diab menyampaikan secara langsung pengunduran dirinya dan pemerintahannya. Pengunduran diri Diab disampaikan pada Senin (10/8) malam waktu setempat, atau kurang dari seminggu setelah ledakan di Beirut terjadi.
"Hari ini kami mengindahkan orang-orang dan tuntutan mereka untuk meminta pertanggungjawaban mereka yang bertanggung jawab atas bencana," katanya dalam pidato yang disiarkan televisi. "Inilah mengapa hari ini saya mengumumkan pengunduran diri pemerintahan."
Selain Hassan Diab, sejumlah anggota kabinet, parlemen, dan beberapa Menteri juga turut undur diri dari jabatan masing-masing sebagai bentuk tanggung jawab mereka karena telah mengecewakan rakyat Lebanon.
(wk/luth)