Bawa Busur dan Panah, Suku Amazon Blokir Jalan Protes Penanganan Corona Oleh Presiden Brasil
AFP/Sergio LIMA
Dunia

Warga suku Amazon melakukan aksi blokade jalan sebagai bentuk protes kepada Presiden Brasil yang dinilai telah menutup mata dalam menangani pandemi corona.

WowKeren - Brasil saat ini masih menjadi negara peringkat kedua dengan kasus virus corona (COVID-19) tertinggi di dunia. Situasi darurat di Brasil tersebut telah memicu aksi protes dan demonstrasi dari penduduk asli hutan Amazon.

Warga suku Amazon mengacungkan busur dan panah dalam melakukan unjuk rasa kepada Pemerintah Brasil atas penanganan pandemi corona yang buruk. Tak sampai disitu, warga Amazon juga memblokir jalan raya utama di kawasan tersebut.

Mereka melakukan aksinya dengan mengenakan hiasan kepala tradisional dari bulu dan cat tubuh. Pemblokiran jalan dilakukan dengan menggunakan ban bekas hingga mereka membawa tombak, parang, juga busur untuk mencegah pengemudi melewati kawasan tersebut.

Dilansir dari AFP, mereka menuntut Pemerintah Brasil untuk memberikan bantuan kepada warga Amazon dalam melawan pandemi. Mereka juga mendesak pemerintah segera menutup penambangan ilegal serta penggundulan hutan yang marak terjadi di hutan Amazon.


Adapun suku etnis Kayapo Mekranoti yang melakukan blokade di seberang jalan raya BR-163. Jalan tersebut diketahui adalah penghubung utama pusat pertanian di bagian barat-tengah Brasil hingga ke pelabuhan sungai Amazon. Akibat pemblokiran jalan itu, truk-truk pengangkut jagung hingga kedelai di luar kota Novo Progresso mengalami kemacetan parah.

Sementara itu, Asosiasi Masyarakat Asli Brasil (APIB) menjelaskan jika pandemi virus corona di Brasil telah memberikan dampak yang mengerikan. Penduduk pedalaman dinilai menjadi pihak paling berpotensi tinggi tertular virus mematikan tersebut lantaran mereka memiliki riwayat rentan akan penyakit dari luar daerah.

APIB mencatat hingga Senin (17/8), sudah ada 21 ribu masyarakat asli Amazon yang terinfeksi COVID-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 618 orang dinyatakan meninggal dunia. Lembaga ini lantas menuding Presiden Brasil, Jair Bolsonaro yang dinilai menutup mata dan tidak memperhatikan nasib para penduduk asli pedalaman.

”Penyakit ini semakin memburuk tiap harinya," kata kepala suku Kayapo Mekranoti, Beppronti Mekragnotire dalam bahasa asli yang kemudian diterjemahkan seperti dilansir dari The Journal, Selasa (18/8). “Itulah mengapa kami protes, sehingga pemerintah akan melihat masyarakat asli, bukan hanya di sini tetapi di seluruh Brasil.”

(wk/lian)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait