Studi baru dari Harvard Medical School, Amerika Serikat, menemukan bahwa akupunktur dapat membantu pasien COVID-19. Hal ini dibuktikan dengan meredakan peradangan pada tikus.
- Nidya Putri
- Rabu, 19 Agustus 2020 - 12:30 WIB
WowKeren - Saat ini dunia tengah berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan vaksin virus corona (COVID-19). Namun, tanpa diduga akupunktur rupanya bisa menjadi alternatif untuk membantu mereka yang terinfeksi virus corona.
Sebuah studi baru dari Harvard Medical School, Amerika Serikat, menemukan bahwa akupunktur dapat membantu meredakan peradangan pada tikus. Pengobatan tradisional asal Tiongkok tersebut diketahui bisa mempengaruhi kemampuan hewan pengerat untuk mengatasi badai sitokin-- respons kekebalan agresif yang ditemukan menyebabkan peradangan paru-paru, pneumonia, dan kematian pada beberapa pasien COVID-19.
"Ini adalah berita yang menggembirakan," ujar ahli akupunktur Sara Reznikoff, yang tidak berafiliasi dengan penelitian tersebut dilansir The Post, Rabu (19/8).
Sejumlah obat saat ini sedang diuji untuk mencoba dan memadamkan reaksi yang terkadang mematikan, tapi para peneliti Harvard mengatakan praktik medis Tiongkok klasik ini mungkin bisa menjadi jawabannya. "Selalu menyenangkan ketika studi Barat mendukung sistem pengobatan akupunktur kuno dan pengobatan tradisional Tiongkok," kata Reznikoff.
Namun, penelitian yang baru diterbitkan kemarin Rabu di jurnal Neuron itu tidak mengejutkannya. Karena menurut Reznikoff, akupunktur sangat bagus dalam memicu kemampuan penyembuhan bawaan tubuh, membantu peradangan dan menenangkan sistem saraf.
Dalam praktiknya di Brooklyn, Reznikoff telah melihat hasil yang luar biasa ketika merawat pasien dengan gejala pasca COVID-19. "Saya senang akupunktur dipertimbangkan dalam perang melawan COVID-19, atau apa pun yang membantu," ujarnya.
Para peneliti menilai temuan tersebut relevan untuk sementara karena mereka dapat memiliki implikasi lama setelah dunia pulih dari pandemi. Badai sitokin telah mendapat perhatian utama saat komplikasi COVID-19 yang parah, tapi reaksi kekebalan yang menyimpang ini bisa terjadi dalam kondisi infeksi apa pun dan telah lama dikenal oleh dokter sebagai ciri sepsis, kerusakan organ, yang seringkali fatal.
Sementara itu, studi lain mendeskripsikan bahwa istilah 'badai sitokin' memunculkan gambaran jelas dari sistem kekebalan yang kacau dan respons peradangan yang tidak terkendali. Dalam studi baru itu, para peneliti menemukan bahwa tikus yang mengalami badai sitokin memiliki peluang bertahan hidup 40 persen lebih besar saat diobati dengan elektro-akupunktur.
Selain itu, akupunktur bekerja dengan baik sebagai praktik pencegahan. Tikus yang diobati dengan akupunktur sebelum mengembangkan badai sitokin mengalami tingkat peradangan yang lebih rendah dan tingkat kelangsungan hidup mereka meningkat dari 20 persen menjadi 80 persen.
(wk/nidy)