Israel mengembangkan alat untuk mendeteksi virus Corona dari sampel air liur seorang pasien hanya dalam waktu 1 detik. Pemeriksaan dengan alat ini sedianya hanya membutuhkan Rp 4 ribu tiap kali tes.
- Elvariza Opita
- Rabu, 19 Agustus 2020 - 13:57 WIB
WowKeren - Deteksi pasien positif COVID-19 merupakan langkah terpenting dalam mengendalikan pandemi yang bermula dari Wuhan, Tiongkok ini. Tes deteksi yang cepat dan akurat terus dikembangkan di berbagai negara, termasuk Israel yang bahkan mengklaim sedang membuat alat tes deteksi super cepat dan murah.
Dilansir dari Reuters, alat tes ini diklaim bisa mengeluarkan hasil hanya dalam hitungan 1 detik atau bahkan lebih cepat. Biaya per tesnya pun diperkirakan di bawah Rp 4 ribu.
Alat tes ini dikembangkan di salah satu pusat medis terbesar di Israel. Dalam uji cobanya, pasien diminta berkumur dengan larutan garam lalu membuangnya di botol kecil.
Lalu sampel air liur akan diperiksa dengan menggunakan perangkat spektral kecil. Cara kerjanya adalah dengan menyinari spesimen itu kemudian menganalisis reaksinya.
Eli Schwartz dari Pusat Pengobatan Geografis dan Penyakit Tropis di Sheba Medical Center mengklaim alat deteksi itu jauh lebih mudah digunakan ketimbang PCR. Disebutkan alat tersebut sedang dalam tahapan uji klinis.
"Sejauh ini kami mendapatkan hasil yang sangat menjanjikan dalam metode baru ini," ujar Schwartz, dilansir pada Rabu (19/8). "Yang akan jauh lebih nyaman dan lebih murah."
Peneliti yang mengembangkan alat itu mengklaim tingkat akurasinya sampai 95 persen. Alat deteksi ini didesain berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Selain sedang dalam tahap uji klinis, alat tersebut juga masih diproses untuk mendapatkan persetujuan regulasi. Lebih detail, besaran biaya untuk melakukan tes adalah kurang dari 25 sen atau sekitar Rp 3.710. Sedangkan keseluruhan perangkat peralatan diharapkan berharga kurang dari USD 200 atau sekitar Rp 2.968.000.
Sebelumnya beberapa negara juga sudah mengembangkan alat deteksi COVID-19 yang cepat dan akurat. Sebab selama ini tes usap tenggorokan hanya bisa ditindaklanjuti dengan prosedur PCR yang memakan waktu cukup panjang.
Seperti misalnya Inggris yang mengembangkan alat deteksi COVID-19 hanya dengan menggunakan sampel air liur pasien dan bisa mendapatkan hasil dalam hitungan menit. Sedangkan di Indonesia sendiri belum ada yang mengembangkan alat deteksi serupa, namun sejauh ini bertumpu pada PCR, rapid test untuk screening awal, dan tes cepat molekuler (TCM) yang merupakan modifikasi dari deteksi TBC.
(wk/elva)