Penduduk di provinsi Otonomi Khusus Uighur Xinjiang di kawasan barat laut Tiongkok, mengeluhkan penerapan lockdown yang dilakukan pemerintah setempat. 'Curhatan' tersebut telah beredar di media sosial Weibo.
- Nidya Putri
- Rabu, 26 Agustus 2020 - 12:51 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu, Pemerintah Tiongkok menetapkan lockdown di wilayah Xinjiang lantaran terdapat kasus baru virus corona (COVID-19). Baru-baru ini penduduk provinsi tersebut rupanya mengeluhkan penerapan penguncian wilayah yang dilakukan pemerintah setempat di media sosial.
Dilansir AFP, ratusan warga setempat membanjiri Weibo dalam beberapa hari terakhir, mereka mengeluhkan kondisi lockdown yang ketat. Akibat aturan sensor yang diberlakukan secara ketat di Tiongkok, beberapa komentar yang diunggah penduduk sudah dihapus. Namun, warganet kembali membanjiri media sosial mirip Twitter itu.
Pengguna Weibo juga membagikan sebuah foto yang memperlihatkan pintu yang disegel dengan linggis baja dan kunci yang dipasang oleh pekerja sosial. "Mengapa prefektur tanpa kasus (virus) tidak bisa menghapus lockdown? Mengapa Anda perlu mengunci seluruh Xinjiang?" tulis salah satu pengguna Weibo dan memperoleh ribuan tanda suka.
"Pintu-pintu ditutup, ini membawa ketidaknyamanan yang sangat besar bagi para pekerja dan kehidupan orang-orang. Harga barang kebutuhan sehari-hari naik... banyak barang yang saya beli sudah kadaluarsa," tulis pengguna Weibo lainnya.
Selain itu, otoritas setempat hanya memberikan informasi yang sedikit terkait klaster Xinjiang. Padahal pemerintah daerah lain di Tiongkok telah memberikan informasi tentang pergerakan pasien secara terperinci.
Dari foto-foto yang beredar di Weibo dan WeChat juga memperlihatkan orang-orang yang dirantai dengan borgol, sebagai hukuman karena mereka meninggalkan rumah di tengah lockdown. Beberapa penduduk juga menulis bahwa mereka dipaksa oleh aparat untuk meminum obat dari pemerintah setiap hari dan mereka diharuskan merekamnya.
Sebuah video yang beredar pada 22 Agustus menunjukkan puluhan warga di ibu kota Urumqi berteriak dari jendela rumah mereka dengan putus asa. Selain itu, pekerja migran yang terdampar, mahasiswa, pelancong bisnis, dan turis juga mengeluh karena tidak dapat meninggalkan Xinjiang.
Perlu diketahui, Tiongkok memang dilaporkan mampu mengendalikan penularan virus domestik melalui lockdown, pembatasan perjalanan, dan pengujian. Namun, wabah regional kembali muncul secara sporadis. Seperti klaster Urumqi yang muncul pada pertengahan Juli lalu.
Sekedar informasi, sekitar setengah dari lebih dari 21 juta orang di Xinjiang adalah etnis Uighur dan Muslim Turki. Beredar kabar yang menyebutkan jika etnis tersebut mengeluhkan penindasan politik dan agama selama beberapa dekade oleh Partai Komunis yang berkuasa di Tiongkok. Namun, tuduhan tersebut dibantah oleh Pemerintah Tiongkok.
(wk/nidy)