Jeremy Teti menceritakan bagaimana pengalamannya saat melakukan liputan perang di Timor Timur. Segala momen menegangkan diceritakan hingga saat nyawanya terancam.
- Lailatul Maghfiroh
- Kamis, 27 Agustus 2020 - 09:23 WIB
WowKeren - Baru-baru ini Jeremy Teti mengenang masa-masa saat ia menjadi jurnalis. Hal itu bermula saat Jeremy mengaku kepada Deddy Corbuzier bahwa dirinya tak pernah takut apapun.
"Gue aja ikut perang gue gak mati, apalagi cuma diancam," ujar Jeremy. Kala itu Jeremy menjadi satu-satunya jurnalis yang meliput situasi perang di Timor Timur.
"Ikut jadi reporter perang di Timor Timur, lepasnya dari Indonesia tahun 1999," papar Jeremy. "Siapa reporter Indonesia yang melakukan siaran langsung dari Timor Leste sampai detik dievakuasi keluar di Timor Leste."
Pria asal Tambua, Nusa Tenggara Timur tersebut menyatakan bahwa ia bersedia meliput perang di Timor Timur karena merasa dekat sebagai tanah kelahiran. "Enggak takut, gue dari tahun 1975 dari kecil udah mengalami perang Timor Timur tahun 1975 pas gue masih SD (sekolah dasar). Kalau waktu gue masih SD tuh denger perang-perangan itu tembak-tembakan itu ada kan jaraknya udah dekat dengan kota," ujar Jeremy.
"Bagaimana kota harus dimatiin lampu dan kita harus evakuasi naik truk-truknya maaf ya, tetangga-tetangga orang Chinnese yang punya truk kita udah nebeng-nebeng masuk ke situ untuk kabur ke luar kota sementara kota udah dikepung waktu itu mau lari ke mana," tambah Jeremy. "Ya udah pasrah aja, lampu seluruh kota udah dimatiin semua waktu itu."
Hingga kemudian kondisi serupa ia alami saat liputan perang di Timor Timur. Bahkan nyawa Jeremy pada saat itu terancam. "Pernah (ditodong pistol). Itu waktu siaran langsung di Timor Timur tahun 1999, orangnya datang sementara live kan udah countdown. Kan siaran siang jam 12, aduh tinggal berapa detik lagi harus udah masuk harus ngomong terus orang pakai motor dengan knalpot racing dia datang muter-muter aku, kan kita cuma berdua sama kameramen," terang Jeremy.
Ia lantas menjelaskan bagaimana pada saat itu kameramen menggunakan kabel panjang untuk melakukan siaran di Timor Timur agar leluasa. Karenanya, kondisi tersebut membuat Jeremy dan kameramen kesulitan untuk kabur.
"'Bapak harus bilang ya itu saudaraku yang mati itu yang nembak polisi, brimob yang nembak gini-gini di Kuluhun di Timor Timur waktu itu', nah sementara lokasi aku live dengan tempat lokasi tempat penembakan itu jaraknya cuma beberapa ratus meter," papar Jeremy.
Hingga kemudian salah satu dari dua pria tersebut mengeluarkan gagang pistol. "Dia di sini udah keluar gagang (pistol). Aduh mati kayaknya selesai hidup gue sama kameramen. Produser gue udah maki-maki gue (biar) naik semua. Suruh naik masuk ke dalam markas kan nyewa ruko, nyewa tinggalnya di ruko, udah jadi cara menyelamatkan diri," terang Jeremy.
Beruntungnya, Jeremy selamat karena membalas ucapan mereka menggunakan bahasa daerah Timor Timur. "Kita harus pandai bisa keluar dari lubang jarum. Dalam kondisi terjepit kita harus bisa lolos."
Selain itu, Jeremy juga hampir diculik saat mengumumkan jajak pendapat mengenai kemerdekaan Timor Leste. "Hampir diculik dan memang itu kan saat mau pengumuman jajak pendapat, tetiba informasi bocor dari intel polisi, yang siaran langsung kan cuma gue sendiri dengan kru-krunya dari SCTV saat itu Liputan SCTV. TV lain gak ada satupun yang berani melakukan siaran langsung jajak pendapat di Timor Leste tahun 1999, gue sendiri di sana selama dua minggu, live di jalan raya ke mana-mana," ujarnya.
"Waktu itu siaran langsung kan SCTV udah ditangkap (sinyalnya) di seluruh ASEAN dan Australia utara jadi kalo pengumuman (kemerdekaan Timor Leste) sudah dari beberapa negara kan sudah bisa menyaksikan saat itu," pungkas Jeremy. "Itu aku dapat informasi dari intel, jadi ada 30 brimob dateng dengan truknya 'Jeremy Teti mana, koper kamu mana, naik!"
(wk/lail)