Greenpeace Tegaskan Bioplastik Bukan Solusi Masalah Sampah Plastik
sainspop.com
Nasional

Pemakaian bioplastik yang berbahan dasar tumbuhan ini rupanya tidak serta merta mampu menjadi solusi untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat sampah plastik.

WowKeren - Pemakaian plastik sekali pakai telah memberikan ancaman yang serius terhadap lingkungan. Tak heran masalah sampah plastik menjadi fokus negara-negara di dunia tak terkecuali Indonesia.

Untuk mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan, maka penggunaan sampah plastik harus dikurangi. Salah satu yang paling banyak menyumbang kuantitas sampah plastik adalah kantong belanja sekali pakai.

Sehingga salah satu upaya untuk menguranginya adalah dengan bioplastik. Namun rupanya, pemakaian bioplastik yang berbahan dasar tumbuhan ini tidak serta merta mampu menjadi solusi.

Sebab, bioplastik sendiri tidak didesain untuk dipakai berkali-kali. Hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Aktivis dari lembaga swadaya masyarakat lingkungan hidup Indonesian Centre for Environmental Law (ICEL) dan Greenpeace Indonesia.


"Bisa dilihat dari pasar pemasarannya membawa citra dapat dengan mudah terurai di alam atau dikompos," kata Kepala Divisi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan ICEL, Fajri Fadhillah seperti dilansir Antara, Selasa (1/9).

Bahkan pihak yang ikut mempromosikan bioplastik ini masih mempertahankan budaya sekali pakai. Bioplastik diklaim dapat terurai dengan cepat di alam serta mudah dikompos. Namun laporan dari Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Programme/UNEP) pada 2015 menemukan bahwa adopsi secara luas bahan itu tidak akan mengurangi secara signifikan volume sampah plastik.

Bioplastik terbuat dari bahan seperti jagung dan tebu. Biasanya dipakai untuk membungkus makanan dan botol plastik. Bioplastik jenis ini banyak ditemukan di pasaran karena memang harganya yang murah. Kendati demikian, perlu diperhatikan jika proses penguraian bioplastik dalam waktu yang cepat membutuhkan tingkat kelembapan dan panas tertentu.

Yang mana, hal ini memerlukan temperatur tinggi agar proses penguraian bisa dilakukan dalam waktu singkat. Untuk industri rumah tangga kondisi ini relatif sulit dipenuhi.

Masalah tak cukup sampai di situ. Penggunaan bioplastik secara masif akan menimbulkan ancaman risiko terhadap berkurangnya lahan secara tidak langsung.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait