Direktur Keuangan PT Pertamina (Persero) Emma Sri Martini mengakui mendapat pukulan besar karena pandemi COVID-19 dengan merugi sebesar Rp 11 triliun pada semester I/2020.
- Nidya Putri
- Selasa, 01 September 2020 - 11:11 WIB
WowKeren - PT Pertamina (Persero) mengalami kerugian sekitar Rp 11 triliun pada semester I/2020. Demi mencegah kerugian yang membesar, BUMN energi itu kini mengupayakan berbagai strategi.
Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini mengatakan kerugian yang dialami oleh Pertamina dikarenakan pandemi virus corona (COVID-19) dan pemberlakukan PSBB. Selain itu, Pertamina rugi juga dikontribusi faktor kurs rupiah terhadap dollar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada di titik terendah pada Maret yang sempat menyentuh angka Rp 16.608 per dollar AS. Di satu sisi, belanja perusahaan, seperti untuk impor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM), menggunakan mata uang dollar AS.
"Sementara pendapatan Pertamina sebagian besar dalam mata uang rupiah," kata Emma dilansir dari Harian Kompas, Selasa (1/9). "Untuk itu, salah satu langkah strategis perusahaan menghadapi tantangan pada tahun 2020 adalah dengan renegosiasi kontrak yang menggunakan mata uang asing untuk dibayar menggunakan rupiah."
Lebih lanjut, Emma mengatakan jika perseroan memilih untuk mengurangi belanja modal dan belanja operasional dengan penghematan hingga 4,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 68,1 triliun. Sebelum terjadinya pandemi COVID-19, Pertamina telah menganggarkan 7,8 miliar dollar AS atau setara Rp 113 triliun tahun ini. Pertamina juga memitigasi risiko selisih kurs dengan meningkatkan kinerja arus kas perusahaan.
Sebelumnya, Vice President Corporate Communication Pertamina, Fajriyah Usman, menyebutkan jika masa pandemi COVID-19 terutama saat pemberlakukan PSBB menjadi penyebab utamanya turunnya kinerja perseroan (rugi). "Salah satu shock yang dialami pada masa pandemi COVID-19 adalah penurunan permintaan (demand) BBM, namun seiring pemberlakuan adaptasi kebiasaan baru dan pergerakan perekonomian nasional," terang Fajriyah dalam keterangannya. "Tren penjualan Pertamina pun mulai merangkak naik. Kinerja kumulatif Juli juga sudah mengalami kemajuan dan lebih baik dari kinerja kumulatif bulan sebelumnya."
Sementara itu, terkait kerugian besar yang dialami Pertamina rupanya membat Komisaris Utama Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok mendapat serangan dari warganet. Tak jarang dari warganet yang meminta untuk mundur dari posisi tersebut.
(wk/nidy)