Ahli mikrobiologi Universitas Indonesia, Pratiwi Pujilestari Sudarmono buka suara terkait temuan mutasi virus corona tipe Q677H yang hanya ada di Surabaya. Ia pun menjelaskan penyebab mutasi tersebut muncul.
- Nidya Putri
- Kamis, 03 September 2020 - 09:50 WIB
WowKeren - Pakar Biomolekular Universitas Airlangga (Unair) Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengklaim adanya mutasi tipe Q677H yang jarang ditemui dan hanya ditemukan di Surabaya. "Ada dua mutan yang berdekatan dan dari peta sebaran di Indonesia, satu-satunya baru di Surabaya," ungkap Ni Nyoman yang juga Wakil Rektor I Unair.
Ahli mikrobiologi Universitas Indonesia, Pratiwi Pujilestari Sudarmono pun menguraikan terkait mutasi virus corona khas Surabaya ini. Menurutnya hal ini merupakan hal yang wajar.
Pratiwi mengatakan mutasi itu terjadi karena virus SARS-CoV-2 merupakan virus RNA (ribonucleic acid). Virus RNA sendiri lebih cepat bermutasi karena molekul penyusun virus ini lebih labil dan tidak memiliki proses pengecekan seperti virus DNA.
Akibatnya, virus RNA sangat sering berubah atau bermutasi sangat cepat, sehingga punya konsekuensi yang parah terhadap mereka yang terinfeksi. "Jadi mengenai mutasi di Surabaya, ini virus RNA. Setiap saat dia bermutasi, berubah dengan cepat," ujar Pratiwi dalam diskusi virtual, Rabu (2/9).
Pratiwi menuturkan mutasi virus RNA seperti SARS-CoV-2 bisa terjadi pada satu titik atau lebih. Perubahan itu kemudian mengubah ekspresi asam amino yang diproduksi oleh virus tersebut. Akan tetapi, dia menyebut mutasi Q677H masih relatif kecil karena belum menjadi berbeda dari virus SARS-C0V-2.
Lebih lanjut, Pratiwi menyebut pemerintah harus melakukan sekuens genom utuh atau Whole Genome Sequencing (WGS) lebih banyak untuk memastikan keberadaan orang yang terinfeksi virus dengan strain mutasi Q677H dan D614G. Dengan cara itu, dia menyebut pemerintah nantinya bisa mengetahui salah satu penyebab sebuah lokasi memiliki kasus positif atau kematian yang tinggi.
"Selama masih sporadis seperti ini, kita baru mendeteksi adanya mutasi, tapi tidak bisa membuktikan apakah mutasi yang terjadi kiranya akan menyebabkan perubahan yang drastis atau luar biasa," ujarnya.
Pratiwi kemudian menambahkan bahwa belum ada obat yang khusus untuk mengobati Covid-19 akibat infeksi SARS-CoV-2. Namun, sejumlah petugas medis mengkombinasikan obat antivirus HIV-AIDS dengan antibiotik untuk menghentikan virus SARS-CoV-2 berkembang biak.
Sementara itu, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengaku jika pihaknya saat ini lebih fokus terhadap pencegahan penyebaran virus corona dibandingkan dengan mutasi yang terjadi pada virus mematikan tersebut. "Ndak apa-apa. Masak aku ngurusin virusnya," kata Risma, Selasa (1/9). "Yang perlu diurusi sekarang memutus mata rantai itu (penyebaran COVID-19)."
(wk/nidy)