badan pengawas yang memerangi ekstremisme di Universitas Al-Azhar, Mesir, menentang keras pencetakan ulang kartun Nabi Muhammad pada majalan mingguan Prancis, Charlie Hebdo.
- Nidya Putri
- Jumat, 04 September 2020 - 09:54 WIB
WowKeren - Majalah asal Prancis, Charlie Hebdo, akan menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad. Hal ini tentunya menuai kecaman dari berbagai pihak.
Salah satunya adalah badan pengawas yang memerangi ekstremisme di Universitas Al-Azhar, Mesir. Dilansir Al-Monitor, pencetakan ulang itu menyusul dibukanya persidangan atas 14 terdakwa serangan teror terhadap kantor redaksi Charlie Hebdo di Paris pada lima tahun silam.
"Desakan tindakan kriminal untuk menerbitkan ulang kartun ofensif ini menanamkan ujaran kebencian lanjutan dan mengobarkan emosi para pengikut agama yang setia," demikian isi pernyataan Observatorium untuk Memerangi Ekstremisme Al-Azhar di laman Facebook-nya.
Mereka juga mengatakan keputusan kontroversial untuk mencetak ulang karikatur itu adalah "provokasi yang tidak dapat dibenarkan oleh hampir dua miliar Muslim di seluruh dunia".
Al-Azhar sendiri kerap dianggap sebagai lembaga keagamaan terpenting bagi kalangan Muslim Sunni. Dalam tradisi Islam, penggambaran Nabi Muhammad dalam majalah itu dianggap bentuk pelecehan dan penistaan.
Dalam pernyataannya pada Rabu kemarin, Al-Azhar juga mengutuk serangan teror di kantor Charlie Hebdo. Mereka menyatakan Islam membenci setiap tindakan kekerasan.
Tim editorial Charlie Hebdo sendiri menyatakan, sejak insiden pada 2015 lalu mereka berulang kali diminta untuk kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad. "Kami selalu menolak itu, bukan karena dilarang, hukum mengizinkan kami untuk melakukannya, tapi karena ada kebutuhan untuk alasan yang baik untuk diperdebatkan," ungkap editorial Charlie Hebdo.
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak melarang majalah Charlie Hebdo kembali menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang kontroversial. Pasalnya, negaranya memiliki kebebasan berekspresi bagi seluruh rakyatnya.
"Tidak pernah menjadi kewenangan presiden untuk memberikan penilaian atas pilihan editorial jurnalis atau berita, tidak pernah. Karena kami memiliki kebebasan pers," kata Macron di sela-sela kunjungannya di Lebanon.
(wk/nidy)