PM Justin Trudeau Sebut Kanada Tengah Masuki Gelombang Kedua Pandemi COVID-19
Getty Images
Dunia
Pandemi Virus Corona

Saat memberlakukan lockdown pada 13 Maret hanya ada 47 kasus baru yang dikonfirmasi. Namun sejak kebijakan lockdown dilonggarkan, ada lebih dari seribu kasus baru yang dilaporkan.

WowKeren - Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, mengatakan saat ini negaranya memasuki gelombang kedua pandemi COVID-19. Trudeau juga memperingatkan potensi penyebaran virus corona menjadi lebih buruk jelang musim gugur.

Trudeau mengatakan bahwa saat memberlakukan penguncian (lockdown) pada 13 Maret hanya ada 47 kasus baru yang dikonfirmasi. Namun sejak melonggarkan aturan secara perlahan, pada Selasa (22/9) ia melaporkan ada lebih dari seribu kasus baru.

"Kami tidak dapat mengubah angka hari ini atau bahkan besok - itu sudah ditentukan oleh apa yang kami lakukan, atau tidak lakukan, dua pekan lalu," kata Trudeau, sebagaimana dilansir dari CNN pada Kamis (24/9).

"Tapi yang bisa kita ubah adalah posisi kita di bulan Oktober, dan memasuki musim dingin. Kemungkinan besar kita tidak akan berkumpul untuk merayakan Thanksgiving, tapi masih punya kesempatan untuk Natal," lanjutnya.

Kendati demikian, Justin Trudeau tetap meminta warga Kanada untuk tetap mengenakan masker dan mengunduh aplikasi pelacakan COVID-19 yang memberi tahu jika mereka melakukan kontak dekat dengan seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi corona. Ia juga mengatakan pemerintah akan melakukan apapun yang diperlukan untuk mendukung Kanada dan perekonomian selama pandemi.


Sementara itu, berdasarkan data statistik dari Worldometers.info, saat ini Kanada telah mencatat 147.756 kasus COVID-19 dengan 9.243 kematian. Sebanyak 127.788 pasien dinyatakan sembuh, dan masih ada 10.725 kasus aktif yang ditangani.

Berbeda dari Kanada, Iran justru disebut berada dalam gelombang ketiga dari wabah virus corona. Jumlah infeksi baru kasus corona di Iran belakangan tercatat di atas 3.000 dalam satu hari yang menandai lonjakan kasus tertinggi sejak virus memasuki negara itu pada Februari.

Sedangkan sejumlah negara Eropa mengatakan bahwa mereka sedang menghadapi gelombang dua corona. Negara-negara tersebut memberlakukan pembatasan lokal baru untuk mengurangi beban kasus yang meningkat. Israel misalnya, yang menjadi negara besar pertama yang memberlakukan lockdown nasional yang akan berlangsung selama tiga minggu.

Kemudian ada pula Spanyol yang memberlakukan lockdown sebagian pada hampir satu juta orang. Lalu di Prancis, kasus harian COVID-19 dilaporkan mencapai rekor 13 ribu.

Sementara pemerintah Inggris mulai meluncurkan langkah-langkah baru yang membatasi kontak sosial di beberapa wilayah. Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan tidak meragukan lagi bahwa negaranya sekarang akan menghadapi gelombang kedua.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts