Iran Turut Kecam Presiden Prancis Emmanuel Macron yang Dituding Hina Islam
Getty Images
Dunia

Menteri Luar Negeri Iran mengatakan Macron sudah menghina 1,9 miliar umat Islam di dunia. Ia juga menyebut kalau pernyataan Macron berpotensi menyuburkan paham ekstremisme.

WowKeren - Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, turut menanggapi kontroversi yang menjerat Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sebagaimana diketahui, Macron mengatakan bahwa dia tidak akan mencegah penerbitan kartun yang menghina Nabi Muhammad dengan dalih kebebasan berekspresi. Sontak saja, Macron langsung dikecam atas pernyataannya tersebut.

Mohammad Javad Zarif menyebut pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron justru berpotensi menyuburkan paham ekstremisme. Menurutnya, Macron seharusnya tidak menyudutkan Islam. "Itu hanya akan memicu ekstremisme," tutur Javad lewat akun Twitter pribadinya.

Dilansir dari CNN, Javad mengatakan Macron sudah menghina 1,9 miliar umat Islam di dunia. Selain itu, Javad menilai penerbitan kartun Nabi Muhammad yang diizinkan Macron pun termasuk penyalahgunaan kebebasan berbicara. "Muslim adalah korban utama dari kultus kebencian," kata Javad.

Hal senada diungkapkan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Shamkhani. Dalam pernyataannya, Shamkhani juga mengkritik Macron yang menyudutkan Islam. Menurutnya, Macron juga masih kurang pengalaman politik. "Jika tidak, dia tidak akan berani menghina Islam," ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prancis Macron menjadi sorotan dunia karena menyebut Islam tengah mengalami krisis. Dia juga menuding Islam bertekad mengubah nilai-nilai liberalisme dan sekularisme di Prancis.

Kisruh ini bermula setelah majalah satire Prancis, Charlie Hebdo, mengumumkan menerbitkan ulang kartun Nabi Muhammad pada September lalu. Penerbitan ulang dilakukan untuk menandai dimulainya persidangan penyerangan kantor mereka terkait karikatur itu pada 7 Januari 2015 silam.


Ketika itu, 12 orang termasuk beberapa kartunis terkemuka, tewas dalam serangan yang dilakukan dua bersaudara, Said dan Cherif Kouachi, di kantor Charlie Hebdo, Paris.

Sejumlah politikus Prancis, terutama partai sayap kanan Front Nasional pimpinan Marine Le Pen, mendukung penerbitan karikatur itu serta menghubungkan aksi teror dengan ajaran Islam dan menyuarakan ujaran anti-Islam. Sementara, Presiden Macron menyatakan tidak bisa mencampuri keputusan redaksional majalah.

Selain itu, ada insiden pemenggalan guru sejarah, Samuel Paty, oleh Abdoullakh Abouyezidovitch, seorang remaja berusia 18 tahun yang merupakan pendatang dari Chechnya, di kota kecil Conflans-Sainte-Honorin, Val d'Oise, Prancis, pada Jumat (16/10).

Guru sekolah menengah itu disebut sempat menggelar diskusi soal kartun Nabi Muhammad dengan para muridnya. Pelaku kemudian ditembak mati polisi.

Setelah insiden itu Macron berpendapat tentang, "Dibunuh karena para umat muslim menginginkan masa depan kita". Sejak itu Macron mendapat kritik dari berbagai pihak.

Salah satu yang mengkritik Macron adalah Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Ia menyindir Macron atas kebijakannya terhadap kelompok muslim di Prancis dan mengatakan bahwa Macron perlu mengecek kesehatan mental.

Sementara, seruan untuk memboikot barang-barang Prancis bermunculan setelah komentar Presiden Emmanuel Macron terhadap Islam dan Muslim. Boikot tersebut sudah berlangsung di Kuwait dan Qatar.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts