Studi Terbaru Ungkap Sebagian Besar Penderita Rematik Hanya Terinfeksi COVID-19 Ringan
Health

Para peneliti lantas melakukan tinjauan sistematis terhadap studi yang melaporkan hasil infeksi COVID-19 di antara pasien dengan penyakit rematik yang menggunakan terapi biologis dan terarah.

WowKeren - Studi terbaru mengungkapkan temuan unik soal infeksi virus corona (COVID-19) terhadap penderita penyakit rematik. Penelitian yang disampaikan dalam pertemuan tahunan American College of Rheumatology Convergence 2020 itu menyebut bahwa infeksi COVID-19 yang dialami para penderita penyakit rematik sangat rendah.

Sebagian besar penderita rematik hanya terinfeksi COVID-19 ringan. Kelompok pasien ini juga memiliki tingkat kematian yang rendah. Padahal COVID-19 diketahui sebagai penyakit baru yang cukup berbahaya bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta alias komorbid.

Banyak penderita rematik diobati dengan imunosupresan (obat yang menekan atau menurunkan sistem kekebalan tubuh) yang membuat mereka lebih rentan terhadap infeksi. Kala pandemi mulai terjadi, tidak jelas bagaimana orang dengan penyakit rematik yang sedang menjalani terapi imunosupresan tersebut akan terpengaruh infeksi COVID-19.

Para peneliti lantas melakukan tinjauan sistematis terhadap studi yang melaporkan hasil infeksi COVID-19 di antara pasien dengan penyakit rematik yang menggunakan terapi biologis dan terarah. "Ketika pandemi dimulai, ada kekhawatiran apakah akan melanjutkan atau mengadakan terapi kekebalan di antara pasien dengan penyakit rematik karena mereka berisiko tinggi terkena infeksi," ungkap rekan penulis studi tersebut, Akhil Sood, dilansir Science Daily pada Senin (9/11).


Peneliti berusaha untuk melihat apakah risiko infeksi COVID-19 pada pasien rematik mengalami peningkatan. Apabila mereka terinfeksi, bagaimana tingkat keparahan perjalanan klinis mereka? Hal tersebut akan membantu peneliti untuk menentukan apakah terapi kekebalan untuk pasien rematik aman dilakukan di tengah maraknya kasus COVID-19.

Untuk melakukan hal itu, para peneliti berusaha untuk mengidentifikasi studi yang relevan dari Januari hingga Juni 2020 yang melaporkan hasil COVID-19 di antara pasien dengan penyakit rematik. Mereka mengekstraksi informasi demografis dan penggunaan biologis pasien atau terapi yang ditargetkan dengan penghambat Janus kinase (JAK).

Hasil ulasan terakhir memasukkan 6.095 pasien dengan penyakit rematik dari delapan studi kohort observasi, 28 persen di antaranya memiliki rheumatoid arthritis (RA) dan 7 persen memiliki psoriatic arthritis (PsA). Hasilnya, dari ribuan pasien dengan penyakit rematik tersebut, hanya 123 orang atau 2 persen yang positif COVID-19 atau diduga positif.

Dari 123 pasien rematik yang terinfeksi COVID-19, sebanyak 91 orang atau 73 persen di antaranya tak pernah dirawat di rumah sakit. Kemudian 13 orang harus dirawat di ICU, dan empat orang meninggal dunia.

"Dalam analisis kami, ada sejumlah kecil pasien yang menjalani terapi biologis dan terarah untuk membuat kesimpulan pasti tentang apakah akan melanjutkan atau menangguhkan terapi," jelas Sood yang merupakan residen penyakit dalam reumatologi di Universitas Texas Cabang Medis di Galveston. Namun demikian, studi ini masih menunggu penelitian ekstensif tambahan yang mencakup lebih banyak pasien dengan penyakit rematik pada terapi biologis dan bertarget.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait